Pemerkosaan 2 Gadis Perawan Yang Menggairahkan

Waktu sudah larut malam saat Wina dan Alisa pulang jalan-jalan dari sebuah mall di kota Pekanbaru, kota tempat mereka menuntut ilmu pada sebuah Universitas terkemuka. Saat itu kampus mereka sedang liburan semester yang lumayan lama, sehingga banyak di antara teman-teman mereka yang memilih pulang kampung, namun bagi Wina dan Alisa lebih memilih untuk tetap tinggal di kota Pekanbaru karena tidak banyak yang dapat mereka kerjakan untuk mengisi waktu liburan di Jakarta kota asal mereka.

AGEN POKER TERPERCAYA


Wina saat ini berusia 26 tahun, sementara Alisa baru berusia 20 tahun. Keduanya memiliki wajah yang cantik, Wina dengan bentuk badan yang berukuran sedang nampak anggun dengan penampilan kesehariannya, sedangkan Alisa memiliki tubuh yang mungil dan wajah yang imut-imut. Banyak pria yang tertarik kepada mereka berdua, karena bukan saja mereka cantik dan pintar, namun mereka juga pandai dalam bergaul dan ringan tangan. Akan tetapi dengan halus pula mereka menolak berbagai ajakan yang ingin menjadikan mereka sebagai kekasih atau pacar dari para pria yang mendekati mereka. AGEN POKER TERPERCAYA

Sampai di tempat kost mereka kira-kira jam 10 malam. Saat itu daerah di sekitarnya sudah sepi begitupula di dalam kost-kostan karena semua penghuninya pulang ke kampung atau kota asal mereka masing-masing untuk memanfatkan waktu liburan kuliah mereka. Sesampainya di kost, Wina langsung menuju ke kamar kost dan membuka pintu, sedangkan Alisa mampir dulu ke kamar mandi yang terletak agak jauh dari kamar kost mereka. Setelah membuka kamar, Wina begitu terkejut ketika dilihatnya kamar mereka sudah berantakan seperti habis ada pencuri. Belum lagi sempat memeriksa segalanya, tiba-tiba kepala Wina sudah dipukul dari belakang sampai pingsan.

Wina tidak tahu apa-apa sampai tubuhnya digoncang-goncang seseorang hingga tersadar dan menemukan dirinya sudah dalam keadaan terikat di kursi tempat biasanya dia duduk untuk belajar dan mulutnya disumpal kain, sehingga tidak dapat bersuara. Belum lagi lama dia siuman, matanya terbelalak ketika melihat pemandangan di sekitarnya, ia melihat dua pria di depannya. Yang menyuruhnya bangun, orangnya berbadan tinggi besar dan kepalanya berambut gondrong dia hanya mengenakan celana jeans kumal, badannya telanjang penuh dengan tatto.

Usia mereka sekitar 40 tahunan. Sementara kamar kost mereka dalam keadaan tertutup rapat, jendela pun yang tadinya agak sedikit terbuka kini telah tertutup rapat. Tidak beberapa lama kemudian mata Wina kembali terbelalak dan ingin menjerit, karena kedua orang itu ternyata dikenalnya. Yang membangunkan dia bernama Anton dan satu lagi bernama Toni. Mereka berdua adalah teman dari Heri pemilik kost yang sering nongkrong di tempat itu, pekerjaan mereka tidak jelas.

Rupanya mereka berdua tertarik dengan kecantikan Wina dan Alisa. Akan tetapi cinta mereka bertepuk sebelah tangan, Wina dan Alisa lebih sering menghindar untuk bertemu dengan Anton dan Toni. Dan yang membuat hati Wina menjerit dan panas adalah begitu sadar sepenuhnya dan mengetahui Anton sedang duduk di pinggir ranjang mereka sambil memangku Alisa yang saat itu sudah tinggal memakai BH dan celana dalamnya saja yang berwarna putih.

Alisa sambil menangis memohon-mohon minta dilepaskan, air matanya telah membasahi wajahnya yang cantik itu. Tapi Anton yang badannya jauh lebih besar itu tidak menghiraukannya, dia mulai meremas-remas payudara Alisa yang masih terbungkus BH itu, kemudian menjilati leher Alisa.
Pria itu lalu berkata, “Diam, jangan macam-macam atau kupatahkan lehermu, nurut saja kalau mau selamat..!”
Setelah itu dilumatnya dengan rakus bibir indah Alisa dengan bibirnya
“Hmp.., cup.., cup..,” begitulah bunyinya saat kedua bibir mereka beradu.
Air liur pun sampai menetes-netes keluar, rupanya lidah Anton bermain di dalam rongga mulut Alisa.

Sementara itu Toni yang berada di samping Wina berkata,
“Hei, elo sudah bangun ya, teman elo ini boleh juga, gue pake dia dulu ya, baru setelah itu giliran elo, nah sekarang elo perhatikan gue baik-baik kalo sampe elo nanti engga bisa muasin nafsu gue, mampus deh elo..!” sambil mengelus-elus kepala Wina.
Wina mau berontak tapi tidak dapat berbuat apa-apa, Wajah Wina pun mulai pucat.

Lalu Anton yang masih memangku Alisa menyudahi serbuan bibirnya dan berkata.
“Ok Sayang, ini waktunya pesta, ayo kita bersenang-senang!”
Dia menyuruh Alisa berlutut di depannya dan menyuruhnya membukakan celana jeans kumalnya, lalu mengulum batang kemaluannya.
Sambil menangis Alisa memohon belas kasih
“J.. ja.. angan.. tolong jangan perkosa saya, ambil saja semua barang di sini!”
Belum selesai berkata, tiba-tiba, “Pllaakk..!” Anton menampar pipinya dan menjambak rambutnya.
Dengan paksa Alisa dibuat berlutut di depannya.
“Masukkan ke dalam mulut elo, hisap atau gue bunuh elo..!”

Dengan putus asa dan wajah yang pucat dan gemetar, Alisa membuka celana Anton dan begitu dia menurunkan celana dalam Anton tampaklah kemaluan Anton yang telah membesar dan menegang. Tanpa membuang waktu Anton segera memasukkan kemaluannya itu ke mulut Alisa yang mungil itu. Batang kemaluannya tidak dapat sepenuhnya masuk karena terlalu besar, dengan kasar dia memaju-mundurkan kepala Alisa.
“Hhmpp.., emphh.. mpphh..!” begitulah suara Alisa saat mulutnya dijejali dengan kemaluan Anton.

Toni juga tidak tinggal diam, rupanya nafsu telah memenuhi otaknya, setelah dia melepas celana jeansnya dia berdiri di samping Alisa, menyuruh Alisa mengocokkan batang kemaluannya yang juga telah membesar dengan tangan. Batang kemaluan Toni tidak sebesar temannya, tapi diameternya cukup lebar sesuai dengan tubuhnya. Sekarang Alisa dalam posisi berlutut dengan mulut dijejali kemaluan Anton dan tangan kanannya mengocok batang kemaluan Toni.
“Emmhh.. benar-benar enak emutan gadis cantik ini, lain dari yang lain..!” kata Anton.
“Iya, kocokannya juga enak banget, tangannya halus nih..!” timpal Toni.

Beberapa lama kemudian nampak tubuh Anton menegang, seluruh badannya mengejang.
“A.. akh..!” Anton akhirnya berejakulasi di mulut Alisa.
Cairan putih kental memenuhi mulut Alisa menetes di pinggir bibirnya seperti vampire baru menghisap darah, dan Alisa terpaksa meminum semuanya karena takut ancaman mereka dan juga kuatnya pegangan tangan Anton di kepalanya.

Kali ini Toni duduk di pinggir ranjang dan menyuruh Alisa berjongkok di depannya sambil terus memijati dan mengocok batang kemaluan dengan tangannya. Alisa terpaksa menuruti kemauan Toni itu sambil sesekali dipaksa untuk menjilati ujung batang kemaluannya, sehingga Toni mendengus keenakan. Sementara itu si Anton mengambil posisi berbaring di bawah kemaluan Alisa dan menjilati liang vaginanya sambil sesekali menusuk-nusukkan jarinya ke liang kemaluan itu.

Seketika itu Alisa kaget dan, “Ehhgh.., iihh.. iih.. eggmhh..!” Alisa pun merintih-rintih jadinya, badannya menggeliat-geliat akibat tusukan jari-jari serta jilatan lidah Anton di kemaluan Alisa.
“Ayo anjing.., kocok terus barang gue..!” bentak Toni sambil menampar kepala Alisa.
Kembali Alisa mengocok kemaluan Toni sambil badannya terus meliak-liuk karena kemalunnya mendapat serangan dari tangan dan lidah Anton. Dari bibirnya pun terus terdengar suaranya merintih-rintih.

Sekitar 10 menit dikocok, Toni memuncratkan maninya dan membasahi wajah serta rongga mulut Alisa. Kali ini Alisa sudah tidak tahan dengan rasa cairan itu, sehingga dia memuntahkannya. Melihat itu Toni jadi gusar, dia lalu menjambak rambut Alisa dan menampar pipinya sampai dia jatuh ke ranjang.
“Pelacur anjing..! Kurang ajar, berani-beraninya membuang air maniku. Kalo sekali lagi begitu, kurontokkan gigi elo, dengar itu..!” bentaknya. Anton pun terpaksa menyudahi aktifitasnya dan ikut-ikutan menampar Alisa.

Mereka kembali menggerayangi tubuh Alisa, kali ini Anton merentangkan tubuh Alisa di tempat tidur dan membuka lebar kedua pahanya, dan segera mulai memasukkan batang kejantanannya ke liang kemaluan Alisa.
“J.. jangan. Aduh.., tto.. long.., Mbak Wina. Ampun Bang..!” pinta Alisa sambil mencoba berontak tapi dengan sigapnya Toni membantu Anton dengan memegangi kedua tangan Alisa.
Batang kemaluan yang ukurannya besar itu dimasukkannya dengan paksa ke liang kemaluan Alisa yang masih perawan, sehingga dari wajah Alisa terlihat dia menahan sakit yang amat sangat, tangisannya pun semakin keras.

Setelah hampir seluruh batang kemaluannya terbenam di dalam liang kemaluan Alisa, Anton mulai memaju-mundurkan pantatnya, mulai dengan irama pelan hingga dengan cepat. Keringat pun dengan deras membasahi kedua tubuh itu. Beberapa saat kemudian dari sela-sela kemaluan Alisa mengucur darah segar bercampur dengan cairan bening hingga warnanya berubah menjadi merah muda meleleh membasahi paha Alisa.
“Aakkh.. aahh.. aa. ouhh.. ss.. aakit. ooh. aampuun.. ohh..,” begitulah erangan dan teriakan Alisa merasakan sakitnya.

Selama beberapa menit disetubuhi oleh Anton, tiba-tiba badan Alisa menegang sampai secara refleks dia memeluk kepala Anton yang sedang asyik menggenjotnya. Dia rupanya mengalami orgasme sampai akhirnya melemas kembali. Anton pun menyudahi gerakan memompanya namun kemaluannya masih tetap tertanam di dalam liang vagina Alisa.
“He.. he.. he.. Baru kali ini kan loe ngerasain pria cokin, gimana rasanya enak engga, jawaabb..!” bentak si Anton sambil menarik rambut Alisa.

Karena takut mereka semakin gila, terpaksa dengan berlinang air mata Alisa menjawab,
“E.. e.. enak, enak sekali..!”
“Jawab lebih keras supaya teman loe dengar pengakuan loe..!” kata Toni.
“I.. iya, s.. saya suka sekali bercinta.” jawabnya dengan suara terbata-bata.
“Tuh, kamu dengar kan, apa kata teman elo, dia suka dientot, ha.. ha.. ha..!”  Abis ini giliran elo yang gue entot..! Hahaha..!” ejek mereka pada Wina yang hanya dapat meronta-ronta sambil menangis di kursinya.
Hatinya benar-benar serasa mau meledak tapi dia tidak dapat berbuat apa-apa.

Kemudian si Anton mencabut kemaluannya dan membuat posisi badan Alisa gaya posisi anjing, dia kemudian memasukkan kejantanannya yang berukuran 20 cm lebih itu ke pantatnya Alisa hingga terbenam seluruhnya.
Karena rasa perih dan sakit yang tidak terhingga.
Maka Alisa berteriak memilukan, “Aaakkhh..!”
Lalu dia menariknya lagi, dan dengan tiba-tiba sepenuh tenaga dihujamkannya benda panjang itu di pantat Alisa hingga membuatnya tersentak kaget dan kesakitan sampai matanya membelalak.

“Ooughh..Ooughh..!!” Alisa mendengus keras menahan rasa perih dari lubang duburnya, seluruh badannya kembali mengeras lolongannya pun kembali terdengan memilukan
 “Aahh.. ouh.. aah..! Aa.. mpun.., ssakit. Aakhh..!”
Kini Anton meyodomi Alisa dengan irama yang keras dan cepat hingga Alisa menggelepar-gelepar, dan badannya kini mulai melemah dan habis akibat digenjot oleh Anton.
Tidak beberapa lama Anton akhirnya mencabut kemaluannya dari lubang dubur Alisa dengan kasar. Kembali darah segar mengucur deras dari liang dubur Alisa, sementara Alisa tertelungkup jatuh ke kasur disertai rintihan panjang melemah, “Aahh..!”
Namun Anton belum juga puas, kemalunnya masih garang. Kini ditelentangkannya Alisa dan kembali Anton meniduri Alisa dan memasukkan kembali batang kemaluannya ke lubang vagina Alisa yang telah lemas itu, dan kembali Alisa menggenjot tubuh lunglai itu.

Tidak lama Anton pun berejakulasi di rahim Alisa. Lolongan kepuasan keluar dari mulut Anton disaat menyemprotkan spermanya yang jumlahnya banyak itu hingga meluber keluar dari sela-sela kemaluan Alisa. Alisa pun merintih lirih, dan akhirnya bersamaan dengan itu Alisa pun pingsan karena kehabisan tenaga dan rasa sakit yang tidak terhingga.
Dengan perasaan puas Anton pun merebahkan badannya Alisa yang tergeletak tidak bergerak.
“Akhirnya gue perawanin juga elo. Dasar cewek sombong..!” ujarnya sambil mengehela napas dan melirik Alisa.

Sesudah itu kini Toni yang tadi menjadi penonton mulai mendekati Wina yang masih terikat lemas di kursinya.
“Hei, teman elo boleh juga tuh. Nah, sekarang giliran elo yang servise gue. Asal elo tau gue itu naksir berat ama elo, tapi elo menghindar melulu. Gue tau gue jelek dan gue beda ama yang elo bayangkan jadi pacar elo. Buat gue itu engga soal, sekarang gue cuma mau perkosa elo. Udah gitu elo bebas, tapi kalo elo berontak, Mati elo..!”
“PLAAK..!” sebuah tamparan keras menghantam kepala Wina hingga Wina yang masih diikat di kursi itu terjatuh bersama kursinya.
“Hmmph..Hmmph..!” dengan mulut tersumbat Wina berteriak.

Kemudian dia menarik dan meletakkan tubuh Wina mengembalikan ke posisi semula. Dengan pisau dapur milik kedua mahasiswi itu dia merobek-robek baju kaos lengan panjang yang dikenakan oleh Wina. Nafas Wina tersentak ketika dengan cepat Toni dengan pisaunya melucuti BH dan celana panjang bahan yang dikenakannya. Sekarang Wina hanya memakai celana dalamnya yang berwarna putih serta sepasang kaos kaki putih setinggi lutut yang selalu dikenakannya. Payudaranya yang penuh bulat terbuka, tubuhnya putih mulus masih dalam posisi terikat di tempat duduknya.

“Hmph.., hmph..!” Wina meronta sambil memandang Toni dengan putus asa, matanya memerah dan air matanya mengalir deras membasahi pipinya, wajahnya pucat.
Karena dia menyadari yang akan terjadi pada dirinya, yaitu sebagai pemuas nafsu bejat.
“Diem brengsek..!” kata Toni, “PLAK..!” sekali lagi tamparan kuat mendarat di pipi Wina, membuat kepala Wina tersentak.

Kemudian ia membuka ikatan Wina dan membantingnya ke tempat tidur dalam posisi telungkup dan setelah itu dia merentangkan kedua tangan Wina serta melebarkan kedua kaki Wina hingga posisi Wina kini seperti orang merangkak. Dan  tepat di hadapannya terdapat kaca rias, setinggi tubuh manusia. Toni lalu merobek celana dalam Wina dengan kasar dan menjatuhkannya ke lantai. Lalu tanpa menunggu lagi, Toni yang mulai dirasuki nafsu sex memperlihatkan penisnya yang sudah keras. Toni hanya membiarkan topi yang masih tetap membungkus kepala Wina dan sepasang kaos kaki putih yang masih dikenakan Wina, mungkin ini dapat membuat nafsu Toni semakin menjadi. Karena memang dengan mengenakan topi, wajah Wina jadi nampak cantik dan lucu.

Kemudian Toni menyelipkan penisnya di antara kedua kaki Wina lewat belakang.
“Ooh.., ampun Pak Toni. Ampunn.., jangann.. jangan! Ampun, jangan..!” Wina mulai menangis dan rasa tegang menyeliputi hatinya.
Kepala penisnya kemudian menyusuri belahan pantat Wina, terus menuju ke bawah, kemudian maju mendekati bibir vaginanya. Setelah tangan Toni memegang pinggul Wina, dengan satu gerakan keras penisnya bergerak maju.
“Arrgghh.., aaahh.., Ampun..!” Wina menjerit-jerit ketika penis Toni mulai membuka bibir vaginanya dan mulai memasuki lubang kemaluannya.
Kaki Wina mengejang menahan sakit ketika penis Toni terus menembus masuk tanpa ampun menusuk-nusuk selaput daranya.

Bibir tebalnya menganga membentuk huruf O dan mengeluarkan rintihan-rintihan, “Oohh.., oouugghh.., aa.. ampuun Bangg..! Aakkhh..!”
Badannya pun tersodok-sodok. Toni terus bergerak memompa maju mundur memperkosa Wina. Ketika kepala Wina terjatuh lunglai kesakitan, dia menarik kepala Wina sehingga kepalanya kembali terangkat dan Wina kembali dapat melihat dirinya disetubuhi oleh Toni melalui cermin di depannya.

Tiba-tiba Toni mengeluarkan penisnya dari vaginanya. Wina langsung meronta dan berlari menuju pintu, berharap seseorang akan melihatnya minta tolong, biarpun dirinya telanjang bulat. Toni yang segera pulih menyambar pinggangnya sebelum Wina sampai ke pintu depan.
“Ahh, tolong! Tolonggg..,” teriakan Wina dibungkam oleh tangan Toni, Toni pum memukul Wina dengan keras.
Wina pun jatuh terjelembab ke lantai.
“Dasar Bandel ya..!” ujar Toni.

Kemudian Toni mendorong Wina hingga terjatuh berlutu. Sekarang Toni memasukkan penisnya ke mulut Wina.
“Mmpphh..Mmpphh..!” Wina mencoba berteriak dengan penis yang sudah masuk di dalam mulutnya. Kedua tangan Toni memegang kepala Wina dengan kencangnya menggerak-gerakkan maju dan mundur. Dan mata Wina tertutup dan wajahnya memerah, air matanya masih meleleh turun di pipinya, baru pertama kali dalam seumur hidupnya dia diperlakukan seperti ini.

Setelah beberapa lama mengocok kemaluannya di rongga mulut Wina, terlihat tanda-tanda Toni akan mencapai klimaksnya, gerakan memaju-mundurkan kepala Wina semakin cepat.
Dan, “Akkh.. Croot.., croot..!” Toni berejakulasi di mulut Wina, sperma yang keluar jumlahnya cukup banyak sehingga meluber keluar dari mulut Wina.
Wina hanya dapat mendengus-dengus dan dengan terpaksa menelan semua sperma yang dimuntahkan Toni tadi, sementara pegangan tangan Toni di kepala Wina semakin kencang, sehingga sulit bagi Wina untuk menarik kepalanya.

Kemudian dengan napas Toni mencapakkan Wina hingga telentang di kasur.
Toni berjongkok membalikkan tubuh Wina menjadi telentang. Kemudian menarik kaki Wina lalu membukanya dan menekuk hingga kedua pahanya menyentuh buah dadanya.
Kini posisi Wina telah siap untuk disetubuhi lagi, Toni meraih penisnya yang telah kembali tegang dan memeganginya, memandang ke arah Wina yang memalingkan wajahnya dari Toni, matanya terpejam erat-erat wajahnya yang masih mengenakan topi nampak cantik walau penuh dengan keringat dan air mata. Toni mengarahkan penisnya ke vagina Wina, cairan yang keluar dari penisnya membasahi vaginanya, membantu membuka bibir vagina Wina. Wina mengerang dan merintih, tubuhnya kembali meronta-ronta, giginya menggeretak, Toni nampak menikmati jeritan Wina ketika dia menghunjamkan penisnya ke vaginanya yang telah basah oleh darah dan cairan vaginanya.

“Aahhgghh..!” Toni mulai memperkosa Wina.
Kaki Wina terangkat karena kesakitan dan rintihan terdengar dari tenggorokannya. Tubuhnya mengejang berusaha melawan ketika Toni mulai bergerak dengan keras di vagina Wina. Toni menarik penisnya sampai tinggal kepalanya di vagina Wina sebelum didorong lagi masuk ke dalam rahimnya. Toni semakin bersemangat mompakan batang kemaluannya di dalam rahim Wina.

Nafsu telah membakar dirinya sehingga gerakannya pun semakin keras, sehingga semakin cepat tubuh Wina pun lemas tergoncang-goncang dan tersodok-sodok. Dan suatu ketika dengan kasarnya dicampakkannya topi yang menutupi kepala Wina oleh Toni, sehingga tergerailah rambut indah seukuran bahu milik Wina. Kini pada setiap hentakan membuat rambut indah Wina tergerai-gerai menambah erotisnya gerakan persetubuhan itu. Sambil terus menggenjot Wina, bibir Toni kini dengan leluasa melumat dan menjilati leher jenjang Wina yang tidak tertutup topi dan menyedot salah satu sisi leher Wina.

Gerakan dan hentakan-hentakan masih berlangsung, iramanya pun semakin cepat dan keras. Wina pun hanya dapat mengimbanginya dengan rintihan-rintihan lemah dan teratur
“Ahh.. ohh.., ooh.. ohh.. oohh..!” sementara tubuhnya telah lemah dan semakin kepayahan.
Akhirya badan Toni pun menegang dan tidak beberapa lama kemudian Toni berejakulasi di rahim Wina. Sperma yang dikeluarkannya cukup banyak. Toni nampak menikmati semburan demi semburan sperma yang dia keluarkan, sambil menikmati wajah Wina yang telah kepayahan dan lunglai itu.

Toni mengerang kenikmatan di atas badan Wina yang sudah lemah yang sementara rahimnya menerima semburan sperma yang cukup banyak.
“Aauughh...!” Wina pun akhirnya tersentak tidak sadarkan diri dan jatuh pingsan menyusul Alisa temannya yang terlebih dulu pingsan.
Badan Toni menggelinjang dan mengejan disaat melepaskan semburan spermanya yang terakhirnya dan merasakan kenikmatan itu. Batinnya kini puas karena telah berhasil menyetubuhi dan memperkosa serta merengut keperawanan Wina gadis mahasisiwi cantik yang ditaksirnya itu. AGEN POKER TERPERCAYA

Comments

Popular posts from this blog

Ditilang Polisi Ganteng Yang Akhirnya Minta Ngentot

Tergoda Istri Tetangga Dari Mengintip Dan Akhirnya Bisa Kunikmati

Menjadi Supir Sekaligus Gigolo Majikanku Yang Bernafsu Besar