Akibat Tak Tahan Godaan Tante Sebelah Rumahku

Nuri, 32 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak. Suaminya, Bimo, 36 tahun, adalah karyawan dari salah satu perusahaan swasta besar di Bandung. Perawakan Nuri sebetulnya biasa saja seperti kebanyakan. Yang membuatnya menarik adalah bentuk tubuhnya yang sangat terawat. Buah dadanya tidak terlalu besar, tapi enak untuk dipandang, sesuai dengan pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang bulat.

AGEN JUDI KARTU ONLINE


Kehidupan rumah tangga mereka sangat harmonis. Dengan 2 anak yang sedang lucu-lucunya, ditambah dengan posisi Bimo yang cukup tinggi di perusahaannya, membuat mereka menjadi keluarga yang cukup di hormati di lingkungan kompleks mereka tinggal. Nuri pada dasarnya adalah istri yang sangat setia kepada suaminya. Tidak pernah ada niat berkhianat terhadap Santo karena dia sangat mencintai suaminya. Tapi ada satu peristiwa yang menjadi awal berubahnya cara berpikir Nuri. AGEN JUDI KARTU ONLINE
Suatu siang, Nuri sedang mengasuh anaknya di depan rumah. Dikarenakan kedua anaknya waktu itu berlari jauh dari rumah, maka Nuri langsung mengejar mereka. Tapi tanpa disengaja, kakinya menginjak sesuatu sampai akhirnya Nuri terjatuh. Lututnya memar, agak mengeluarkan darah. Nuri langsung berjongkok dan meringis menahan sakit. Pada waktu itu, Santo anak tetangga samping rumah Nuri kebetulan lewat mau pulang ke rumahnya. Ketika melihat Nuri sedang jongkok sambil meringis memegang lututnya, Santo langsung lari ke arah Nuri.

“Kenapa tante?” tanya Santo.
“Aduh, lutut saya luka karena jatuh, San…” ujar Nuri sambil meringis.
“Bantu saya berdiri, San…” kata Nuri.
“Iya tante,” kata Santo sambil memegang tangan Nuri dan dibimbingnya berdiri.
“San, tolong bawa anak-anak saya kemari.. Anterin ke rumah saya, ya…” kata Nuri.
“Iya tante,” kata Santo sambil segera menghampiri anak-anak Nuri.
Sementara Nuri segera pulang ke rumahnya sambil tertatih-tatih. Waktu Santo mengantarkan anak-anak Nuri ke rumahnya, Nuri sedang duduk di kursi depan sambil memegangi lututnya.
“Ada obat merah tidak, tante?” tanya Santo.
“Ada di dalam, San,” kata Nuri.
“Kita ke dalam saja…” kata Nuri lagi sambil bangkit dan tertatih-tatih masuk ke dalam rumah.
Santo dan anak-anaknya mengikuti dari belakang.
“Ma, Doni ngantuk,” kata anaknya kepada Nuri.
“Tunggu sebentar ya, San. Saya mau antar mereka dulu ke kamar. Sudah waktunya anak-anak tidur siang,” kata Nuri sambil bangkit dan tertatih-tatih mengantar anak-anaknya ke kamar tidur.
Setelah mengantar mereka tidur, Nuri kembali ke tengah rumah.

“Mana obat merahnya, tante?” tanya Santo.
“Di atas sana, San…” kata Nuri sambil menunjuk kotak obat.
Santo segera bangkit dan menuju kotak obat untuk mengambil obat merah dan kapas. Tak lama Santo segera kembali dan mulai mengobati lutut Nuri.
“Maaf ya, tante.. Saya lancang,” kata Santo.
“Tidak apa-apa kok, San. Tante senang ada yang menolong,” kata Nuri sambil tersenyum.
Santo mulai memegang lutut Nuri dan mulai memberikan obat merah pada lukanya.
“Aduh, perih…” kata Nuri sambil agak menggerakkan lututnya.
Secara bersamaan rok Nuri agak tersingkap sehingga sebagian paha mulusnya nampak di depan mata Santo. Santo terkesiap melihatnya. Tapi Santo pura-pura tak melihatnya. Tapi tetap saja paha mulus Nuri menggoda mata Santo untuk melirik walau kadang-kadang. Hati Santo agak berdebar.. Biasanya dia hanya bisa melihat dari kejauhan saja lekuk-lekuk tubuh Nuri atau kadang-kadang hanya kebetulan saja melihat Nuri sedang memakai celana pendek.

Santo biasanya hanya bisa membayangkan saja tubuh Nuri sambil onani. Tapi kini, di depan mata sendiri, paha mulus Nuri sangat jelas terlihat. Nuri sepertinya sadar kalau mata Santo sesekali melirik ke arah pahanya. Segera Nuri merapikan duduknya dan juga menutup pahanya. Santo menjadi malu sendiri..
“Sudah saya berikan obat merah, tante…” kata Santo.
“Iya, terima kasih,” kata Nuri sambil tersenyum.
“Sekarang sudah mulai tidak terasa sakit lagi,” ujar Nuri lagi sambil tetap tersenyum.
Santo, 20 tahun, adalah anak tetangga samping rumah Nuri. Dengan badan tinggi dan kekar selayaknya anak muda yang rajin olahraga.
“Kenapa kamu nunduk terus, San?” tanya Nuri.
“Tidak apa-apa, tante…” ujar Santo sambil sekilas menatap mata Nuri lalu menunduk lagi sambil tersenyum malu.
“Ayo, ada apa?” tanya Nuri lagi sambil tersenyum.
“Anu, tante.. Maaf, mungkin tadi sempat marah karena tadi saya sempat melihat secara tidak sengaja…” kata Santo sambil tetap menunduk.
“Lihat apa?” tanya Nuri pura-pura tidak mengerti.
“Lihat.. Mm.. Lihat ini tante,” kata Santo sambil tangannya mengusap-ngusap pahanya sendiri. Nuri tersenyum mendengarnya.
“Tidak apa-apa kok, San,” kata Nuri.
“Lagian, saya tidak keberatan kok kamu melihat paha tante tadi,” kata Nuri lagi sambil tetap tersenyum.
“Kamu kan tadi sedang menolong saya memberikan obat,” kata Nuri.
“Benar tante tidak marah?” tanya Santo sambil menatap Nuri.
Nuri menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum. Santo pun jadi ikut tersenyum.

“Tante sangat cantik kalau tersenyum,” kata Santo mulai berani.
“Ihh, kamu tuh pintar merayu ya…” kata Nuri.
“Saya berkata jujur loh, tante,” kata Santo lagi.
“Kamu sudah makan, San?” tanya Nuri.
“Belum tante. Saya pulang dari rumah teman tadi belum makan,” kata Santi.
“Makan disini saja, ya.. Temani saya makan siang,” ajak Nuri.
“Baik tante, terima kasih,” kata Santo.
Mereka menikmati makan siang di meja makan bulat kecil. Ketika sedang menikmati makan, tanpa sengaja kaki Santo menyentuh kaki Nuri. Santo kaget, lalu segera menarik kakinya.
“Maaf tante, saya tidak sengaja,” kata Santo.
“Tidak apa-apa kok, San…” kata Nuri sambil matanya nenatap Santo dengan pandangan yang berbeda.
Ketika kaki Santo menyentuh kakinya, seperti terasa ada sesuatu yang berdesir dari kaki yang tersentuh sampai ke hati. Nuri merasakan sesuatu yang lain akan kejadian tak sengaja itu.. Tiba-tiba Nuri merasakan ada sesuatu keinginan tertentu muncul yang membuat perasaannya tidak menentu. Sentuhan kaki Santo terasa begitu hangat dan membangkitkan suatu perasaan aneh.

“Kamu sudah punya pacar, San?” tanya Nuri sambil menatap Santo.
“Belum tante,” kata Santo sambil tersenyum.
“Lagian saya tidak tahu caranya mendapatkan perempuan,” ujar Santo lagi sambil tetap tersenyum. Nuri pun ikut tersenyum.
“Pernah tidak kamu punya keinginan tertentu terhadap perempuan?” tanya Nuri lagi.
“Keinginan apa tante?” tanya Santo. Nuri tersenyum.
“Kita habiskan dulu makannya. Nanti kita bicara…” kata Nuri.
Selesai makan, mereka duduk-duduk di ruang tengah.
“Kamu ada sesuatu yang harus diselesaikan di rumah tidak saat ini?” tanya Nuri.
“Tidak ada, tante,” kata Santo.
“Tadi tante mau tanya apa?” kata Santo penasaran.
“Begini, apakah kamu suka kepada wanita tertentu? Maksud saya suka kepada tubuh wanita?” tanya Nuri.
“Kita bicara jujur saja, ya.. Saya tidak akan bicara pada siapa-siapa kok,” kata Nuri lagi.
“Kamu juga mau kan jaga rahasia pembicaraan kita?” kata Nuri lagi.
“Iya, tante,” kata Santo.
“Kalau begitu jawablah pertanyaan tante tadi…” kata Nuri sambil tersenyum.
“Ya, saya suka melihat perempuan yang tubuhnya bagus. Saya juga suka tante karena tante cantik dan tubuhnya bagus,” kata Santo tanpa ragu.
“Maksudnya tubuh bagus apa,” tanya Nuri lagi. Santo agak ragu untuk menjawab.
“Ayolah…” kata Nuri sambil memegang tangan Santo. Tangan Santo bergetar.. Nuri pun tersenyum.

“Mm.. Saya pernah.. Pernah lihat majalah Playboy, juga..Juga saya pernah lihat VCD porno.. Mm.. Mm.. Saya lihat banyak perempuan tubuhnya bagus…” kata Santo dengan nafas tersendat.
“Oh, ya? Di VCD itu kamu lihat apa saja,” kata Nuri pura-pura tidak tahu, sambil terus menggenggam tangan Santo yang terus gemetar.
“Mm.. Lihat orang sedang begituan…” kata Santo.
“Begituan apa?” tanya Nuri lagi.
“Ya, lihat orang sedang bersetubuh…” kata Santo.
Nuri kembali tersenyum, tapi dengan nafas yang agak memburu menahan sesuatu di dadanya.
“Kamu suka tidak film begitu?” tanya Nuri.
“Iya suka, tante?” kata Santo sambil menunduk.
“Mau coba seperti di film, tidak?” kata Nuri.
Santo diam sambil tetap menunduk. Tangannya makin gemetar. Nuri mendekatkan tubuhnya ke tubuh Santo. Wajahnya di dekatkan ke wajah Santo.
“Mau tidak?” tanya Nuri setengah berbisik.

Santo tetap diam dan gemetar. Wajahnya agak tertunduk. Nuri membelai pipi Santo. Lalu diciumnya pipi Santo. Santo tetap diam dan makin gemetar. Lalu akhirnya dilumatnya bibir Santo.. Lama-lama Santo mulai terangsang nafsunya. Dengan pasti dibalasnya ciuman Nuri.
“Masukkan tangan kamu ke sini…” kata Nuri dengan nafas memburu sambil memegang tangan Santo dan mengarahkannya ke dalam baju Nuri.
“Masukkan tangan kamu ke dalam BH saya, San.. Pegang buah dada saya,” kata Nuri sambil tangannya meremas kontol Santo dari luar celana.
Sementara tangan Santo sudah masuk ke dalam BH Nuri dan mulai meremas-remas buah dada Nuri.
“Mmhh.. Terus sayang…” kata Nuri.
“Tangan saya pegal, tante…” kata Santo polos.
“Uhh.. Kita pindah ke kamar, yuk…” ajak Nuri sambil menarik tangan Santo. Sesampainya di dalam kamar untuk tamu
“Buka pakaian kamu, San…” ujar Nuri sambil melepas seluruh pakaiannya sendiri.
“Iya, tante…” kata Santo.
Setelah Nuri melepas seluruh pakaiannya, segera naik dan telentang di tempat tidur. Santo terkesima melihat tubuh telanjang Nuri. Seumur-umur Santo, baru kali ini dia melihat tubuh telanjang wanita di depan mata. Apalagi wanita tersebut adalah wanita yang sering di bayangkannya bila onani. Kontol Santo langsung tegang dan tegak.

“Naik sini, San…” kata Nuri.
“Iya, tante…” kata Santo.
“Sini naik ke atas tubuh saya…” kata Nuri sambil mengangkangkan pahanya.
Santo segera menaiki tubuh telanjang Nuri. Nuri langsung melumat bibir Santo dan Santo langsung membalasnyanya dengan hebat. Sementara satu tangan Santo meremas buah dada Nuri yang tidak terlalu besar. Sementara kontol Santo sesekali mengenai belahan memek Nuri.
“Ohh.. Mmhh.. Terus remas.. Terus…” desah Nuri sambil memegang tangan Santo yang sedang meremas buah dadanya, dan tangan mereka bersamaan meremas buah dadanya.
“Ohh.. Sshh…” kata Nuri. Santo pun dengan bernafsu terus meremas dan menciumi serta menjilati buah dada Nuri.
“San, jilati memek tante ya, sayang…” pinta Nuri.
“Tapi saya tidak tahu caranya, tante,” kata Santo polos.
“Sekarang dekatkan saja wajah kamu ke memek, lalu kamu jilati belahannya…” kata Nuri setengah memaksa dengan menekan kepala Santo ke arah memeknya.
Santo langsung menuruti permintaan Nuri. Dijilatinya belahan memek Nuri sampai tubuh Nuri mengejang menahan nikmat.
“Ohh.. Mm.. Ohh.. Terus jilat, sayang…” desah Nuri sambil meremas kepala Santo.
“San, kamu jilati bagian atas sini…” kata Nuri sambil jarinya mengelus itilnya.
Lalu lidah Santo menjilati habis kelentit Nuri dengan sangat nafsu.. Nuri kembali menggelepar merasakan nikmat yang teramat sangat.
“Teruss.. Sshh.. Ohh…” desah Nuri sambil badannya semakin mengejang.
Pahanya rapat menjepit kepala Santo. Sementara tangannya semakin menekan kepala Santo ke memeknya. Tak lama..
“Ohhhh…” desah Nuri panjang. Akhirnya Nuri orgasme.

“Sudah, San.. Naik sini,” kata Nuri.
Santo lalu menaiki tubuh Nuri. Nuri lalu mengelap mulut Santo yang basah oleh cairan memeknya. Nuri tersenyum, lalu mengecup bibir Santo.
“Mau tidak kontol kamu saya hisap,” kata Nuri.
“Mau tante,” kata Santo bersemangat.
“Bangkitlah.. Sinikan kontol kamu,” kata Nuri sambil tangannya meraih kontol Santo yang tegang dan tegak.
Santo lalu mengangkangi wajah Nuri. Nuri segera mengulum kontol Santo. Tidak hanya itu, kontol Santo lalu dijilat, dihisap, lalu dikocoknya silih berganti. Santo tubuhnya mengejang menahan rasa nikmat yang teramat sangat. Tangannya berpegangan pada pinggiran ranjang.
“Ohh.. Tantee.. Enaakk…” jerit kecil Santo sambil memompa kontolnya di mulut Nuri.
“Masukkin ke memek,ya sayang…” kata Nuri setelah dia beberapa lama menghisap kontol Santo.
Santo lalu mengangkangi Nuri. Sementara tangan Nuri memegang dan membimbing kontol Santo ke lubang memeknya.
“Ayo tekan sedikit, sayang…” kata Nuri.
Santo berusaha menekan kontolnya ke lubang memek Nuri sampai akhirnya.. Bless.. Bless.. Bless.. Kontol Santo berhasil masuk dan mulai memompa memek Nuri. Santo merasakan suatu kenikmatan yang tiada tara pada batang kontolnya.
“Bagaimana rasanya, San?” tanya Nuri sambil tersenyum dan menggoyang pantatnya.
“Ohh.. Sangat enakk, tanttee…” kata Santo tersendat sambil memompa kontolnya keluar masuk memek Nuri.
Nuri tersenyum.. Setelah beberapa lama memompa kontolnya, tiba-tiba tubuh Santo mengejang. Gerakannya makin cepat. Nuri karena sudah mengerti langsung meremas pantat Santo dan menekankannya ke memeknya agar lebih masuk ke dalam.
Tak lama.. Crott.. Croott.. Croott.. Croott..
“Oohh.. Oohh…” desah Santo. Tubuhnya lemas dan lunglai di atas tubuh Nuri.
“Udah keluar? Bagaimana rasanya?” tanya tante Nuri sambil memeluk Santo.
“Sangat enak, tante…” kata Santo.
Sejak saat itu Santo sering datang ke rumah Tante Nuri jika sedang sepi dan minta jatah lagi. AGEN JUDI KARTU ONLINE

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ditilang Polisi Ganteng Yang Akhirnya Minta Ngentot

Tergoda Istri Tetangga Dari Mengintip Dan Akhirnya Bisa Kunikmati

Menjadi Supir Sekaligus Gigolo Majikanku Yang Bernafsu Besar