Istri Tidak Dirumah Aku Malah Asik Ngentotin 2 Sahabatnya
Aku bangun kesiangan. Kulirik jam dinding…ah… pukul 8 pagi…Suasana rumahku sepi. Tumben, pikirku. Segera aku meloncat bangun, mencari-cari istri dan anak-anakku..tidak ada…Ahh…baru kuingat, hari Minggu ini ada acara di sekolah anakku mulai jam 9 pagi. Pantas saja mereka sudah berangkat. Istriku sengaja tidak membangunkan aku untuk ikut ke sekolah anakku, karena malamnya aku pulang kantor hampir pukul 4 pagi.
Yah, beginilah nasib auditor kalau lagi dikejar laporan audit. Untung saja, ada anggota timku yang bisa mengurangi keteganganku. Ya, Arumi tentunya, yang semalam telah memberikan servis untukku. Baginya, bersetubuh dengan lelaki lain selain suaminya bukan hal yang tabu. Aku tersenyum mengingat kejadian semalam. Sebenarnya jam 11 malam kami sepakat untuk pulang kantor, tapi ternyata aku dan Agnes sama2 lagi horny. Akhirnya, terjadilah seperti yang sudah kuceritakan diatas. Tak terasa, aku mulai horny lagi. kontolku pelan2 mengangguk-angguk dan mulai mengacung.“Walah…repot bener nih, pikirku. “Lagi sendiri, eh ngaceng.” Kebetulan, di rumah tidak ada pembantu, karena istriku, Intan, lebih suka bersih2 rumah sendiri dibantu kedua anakku. “Biar anak-anak gak manja dan bisa belajar mandiri. Lagian, bisa menghemat pengeluaran,” kilah istriku. Aku setuju saja. AGEN POKER TERPERCAYA
Kurebahkan tubuhku di sofa ruang tengah, menonton bokep. Sengaja kusetel, biar hasratku cepet tuntas. Setelah kubuka celanaku, aku sekarang hanya pakai kaos, dan tidak pakai celana. Pelan-pelan kuurut dan kukocok kontolku.
Aku pun teringat Lisa, sahabat istriku. Dia adalah sahabat istriku dan sering juga main kerumahku. Kadang sendiri, kadang bersama keluarganya. Ya, aku memang sering berfantasi sedang menyetubuhi Lisa. Tubuhnya mungil, setinggi Arumi, tapi lebih gendut. Yang kukagumi adalah kulitnya yang sangat-sangat-sangat putih mulus, seperti warna patung lilin. Dan pantatnya yang membulat indah, sering membuatku ngaceng kalo dia berkunjung.
Aku hanya bisa membayangkan seandainya tubuh mulus Lisa bisa kujamah, pasti nikmat sekali. Fantasiku ini ternyata membuat kontolku makin keras, merah padam dan cairan bening itu mengalir dengan deras. Ah Lisa…seandainya aku bisa menyentuhmu..dan kamu mau ngocokin kontolku..begitu pikiranku saat itu.
Lagi enak-enak ngocok sambil nonton bokep dan membayangkan Lisa, terdengar suara langkah sepatu dan seseorang memanggil-manggil istriku.“Tan…Intan…aku dateng,” seru suara itu…Oh my gosh…itu suara Lisa…mau ngapain dia kesini, pikirku. Kapan masuknya, kok gak kedengaran? Lisa memang tidak pernah mengetuk pintu kalau ke rumahku, karena keluarga kami sudah sangat akrab dengan dia dan keluarganya.
Belum sempat aku berpikir dan bertindak untuk menyelamatkan diri, tau-tau Lisa udah nongol di ruang tengah, dan…“AAAHHH…ALVINNN…!!!!,”jeritnya.
“Kamu lagi ngapain?”“Aku…eh…anu…aku….ee…lagi…ini…,”aku tak bisa menjawa pertanyaannya. Gugup. Panik. Sal-ting. Semua bercampur jadi satu. Orang yang selama ini hanya ada dalam fantasiku, tiba-tiba muncul dihadapanku, langsung melihatku dalam keadaan telanjang, gak pake celana, Cuma kaos aja. Ngaceng pula.
“Kamu dateng kok gak ngabarin dulu sih?” aku protes.
“Udah, sana, pake celana dulu!” Pagi-pagi telanjang, nonton bokep sendirian,lagi ngapain sih?”ucapnya sambil duduk di kursi didepanku.
“Yee…namanya juga lagi horny…ya udah mending colai sambil nonton bf. Lagian anak-anak sama mamanya lagi pergi ke sekolah. Ya udah, self service,”sahutku.
“Udah,Vin. Sana pake celana dulu. Kamu gak risih apa?”
“Ah, kepalang tanggung kamu dah liat? Ngapain juga dtitutupin? Telat donk,”kilahku.
“Dasar kamu ya. Ya, udah deh, aku pamit dulu. Salam aja buat istrimu. Sana, terusin lagi.” Lisa beranjak dari duduknya, dan pamit pulang.
Buru-buru aku mencegahnya. “Lisa, ntar dulu lah…,”pintaku.
“Apaan sih, orang aku mau ngajak Intan jalan, dia nggak ada ya udah, aku mau jalan sendiri,”sahutnya.
“Bentar deh Lisa”pintaku.
Tolongin aku, gak lama kok, paling sepuluh menit,”aku berusaha merayunya.
“Gila kamu ya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”Lisa protes sambil melotot.
“Lis, Aku gak minta kamu untuk melakukan hal itu. Enggak. Aku Cuma minta tolong, kamu duduk didepanku, sambil liatin aku colai.”
“Gimana?”Linda tidak menjawab.
“Ok, Lis. Aku janji gak ndeketin apalagi menyentuh kamu.
Tapi, sebelum itu, kamu juga buka bajumu dong…pake BH sama CD aja deh, gak usah telanjang. Kan kamu dah liat punyaku, please?” aku merayunya dengan sedikit memelas sekaligus khawatir.
“Hm…fine deh. Aku bantuin deh…tapi bener ya, aku masih pake BH dan CDku dan kamu gak nyentuh aku ya. Janji lho,”katanya.
“Ya udah deh, aku buka baju di kamar dulu.”
“Gak usah, disini aja,”sahutku.
Perlahan, dibukanya kemejanya…dan…ah payudara itu menyembul keluar. Payudara yang terbungkus BH sexy berwarna merah. Seteah itu, diturunkannya zip celana jeansnya, dan dibukanya kancing celananya.
Perlahan celana itu terlepas dari kaki yang dibungkusnya. Wow…aku terbelalak melihatnya. Paha itu sangat putih sekali. Selangkangannya masih terbungkus celana dalam mini berbahan satin, sewarna dengan BHnya.
“Nih, aku udah buka baju. Dah, kamu terusin lagi colinya. Aku duduk ya.”
Lisa segera duduk, dan hendak menyilangkan kakinya. Buru-buru aku cegah.
“Duduknya jangan gitu dong…Kamu duduk biasa aja, tapi kakimu di buka dikit, jadi aku bisa liat celana dalam sama selangkanganmu. Toh memek kamu gak keliatan?”usulku.
“Iya…iya…ni anak rewel banget ya. Mau colai aja pake minta macem-macem,”Lisa masih saja protes dengan permintaanku.
“Aku lanjut ya colinya.”
Sambil memandangi tubuh Lisa, aku terus mengocok kontolku, tapi kulakukan dengan perlahan, karena aku nggak mau cepet-cepet ejakulasi. Sayang, kalau pemandangan langka ini berlalau terlalu cepat. Aku pun menceracau, tapi Linda tidak menanggapi omonganku.
“Oh…Liiiiss….kamu kok mulus banget siiiihhh….” “Susumu montok bangeeeettttt… pahamu sekel dan putiiiihhhh….hhhhh….pantatmu yang indah bikin aku ngaceng, Liiiiiiss……” aku terus menceracau. Linda menatapku dan tersenyum dan kini bergantian, Lisa menatap wajahku dan sesekali melirik ke arah kontolku yang terus saja ngaceng dan mengeluarkan lendir dari ujung lobangnya. Aku merintih dan menceracau memuji keindahan tubuhnya. Sekaligus aku berharap, kata-kataku dapat membuatnya terangsang.
Lisa masih tetap diam, dan tersenyum tapi aku menangkap sinyal kalo ternyata Lisa juga mulai terangsang dengan aktivitasku. Karena celana dalamnya berbahan satin dan tipis, jelas sekali terlihat ada noda cairan di sekitar selangkannya. Duduknya pun mulai gelisah. Tangannya mulai meraba dadanya, dan tangan yang satunya turun meraba paha dan selangkangannya.
Aku sengaja menutup mata tetapi setelah beberapa saat, aku membuka sedikit mataku, kulihat tangan kiri Lisa meremas payudaranya dan owww…BH sebelah kiri ternyata sudah diturunkan…Astagaaa..!!! Puting itu merah sekali…tegak mengacung. Lisa memilin-milin putingnya, dan tangan kanannya ternyata telah menyusup ke dalam celana dalamnya.
“Sssshh….oofff….hhhhhh…..:” Kudengar suaranya mendesis seolah menahan kenikmatan. Aku kembali memejamkan mataku dan meneruskan kocokan pada kontolku sambil menikmati rintihan-rintihan Lisa.
Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang hangat…basah…lembut…menerpa kontol dan tanganku. Aku membuka mata dan terpekik. My gosh…perlahan impin dan obsesiku menjadi kenyataan. Kontolku dibelai dan dikocok dengan tangan Lisa yang putih mulus.
Aku mendesis dan membelai rambut Lisa. Sebuah kejadian tak terduga tetapi sangat kunantikan…akhirnya kontolku masuk ke mulutnya.
Tak tahan dengan perlakuan sepihak Lisa, kutarik pinggulnya dan buru-buru kulepaskan CDnya. Jariku sibuk mengusap dan meremas pantat putih nan montok, yang selama ini hanya menjadi khayalanku.
“Ohh..Lis…boleh ya aku megang pantat dan memek kamu?”pintaku.
“Terserah…yang penting kamu puas.”Segera kuremas-remas pantat Lisa yang montok.
Puas dengan pantatnya, kuarahkan jariku turun ke anus dan memeknya. Lisa merintih menahan rasa nikmat akibat usapan jariku.
“Achh…Liiiissaa…enak bangeeeeett….sssshhh…….”aku menceracau menikmati jilatan lidah dan hangatnya mulut Lisa saat mengenyot kontolku. Betul-betul menggairahkan melihat bibir dan lidahnya yang merah menyapu lembut kepala dan batang kelelakianku.
Hingga akhirnya….“Liiissaa….bibir kamu lembut banget sayaaaannggg….aahhhh…akuuu…”
“Keluarin sayang…kontol kamu udah berdenyut tuh….udah mau muncrat
yaaa….”
“I…iiy…iiyyaaa….Liiiiissss….Ouuuuuhhhhhh…..argggghhhhhhhhhh…..”Tak dapat kutahan lagi. Bobol sudah pertahananku. Crottt…..crooottt….crooootttt…Spermaku muncrat sejadi-jadinya di muka, bibir dan dada Lisa. Tangan halus Lisa tak berhenti mengocok batang kejantananku, seolah ingin melahap habis cairan yang kumuntahkan Ohhhh....Obsesiku tercapai…pagi ini aku muncratin spermaku di bibir dan muka Lisa.
“Lis…kamu gak geli sayang…? Bibir, muka sama dada kamu kena spermaku?” Lisa menggeleng dengan pandangan sayu.
Tangannya masih tetap memainkan kontolku yang sedikit melemas.
Vin terus terang, bau sperma kamu seger banget…kamu rajin maka buah sama sayur ya?” tanya Lisa.
“Iya...Kenapa Lis? Penasaran sama rasanya? Lha itu spremaku masih meleleh di muka sama dada kamu.
Coba aja rasanya,”sahutku.
“Mmmm…ssllrppp….” terdengar lidah dan bibir Lisa mengecap spermaku. Dengan jarinya yang lentik, disapunya spermaku yang tumpah didada dan mukanya, kemudian dijilatnya jarinya sampe bersih.“Iya, Vin, sperma kamu kok enak ya.
Aku gak ngerasa enek pas nelen sperma kamu…”
”Mau lagi….?”
“Ih…kamu tuch ya…masih kurang, Vin?”
“Lha kan baru oral belum masuk ke memek kamu, Lis.” Sahutku…”
“Tuh, liat…bangun lagi kan?”
“Dasar kamu ya….”
“Bener kamu gak mau spermaku ? Ya udah kalo gitu, aku mau bersih-bersih dulu.”ancamku sambil bangkit dari kursi.
“Mau sih…Cuma takut kalo Intan dateng…gimana donk….”Lisa merajuk.
Perlahan kuhampiri Lisa, kuminta dia duduk di sofa, sambil kedua kakiya diangkat mengangkang. Kulihat memeknya yang licin karena cairannya meleleh akibat perbuatan jariku.
“Hmmm…Lis…memek kamu masih basah…kamu masih horny dong…”tanyaku.
“Udah, Vin….cepetan deh…nanti istrimu keburu dateng…Lagian aku udah…Auuuwwww….!!!! Ohhh..Shhhhh…….”Lisa mendesah saat lidahku menari diujung itilnya.“Vinnn…kamu gilaaa yaaa…”bisiknya samil menjambak rambutku.
Kumainkan lidahku diitilnya yang udah membengkak. Perlahan kumasukkan telunjukku, ke dalam lubang memeknya. Akibatnya luar biasa. Lisa makin meronta dan merintih. Jambakannya makin kuat. Cairan birahinya makin membasahi lidah dan mulutku. Tentu saja hal ini tak kusia-siakan.
Kusedot kuat agar aku dapat menelan cairan yang meleleh dari memeknya. Ya…aroma memek Lisa lain dengan aroma memek istriku.
“Ayoo..Vin…jilat terusss…ochhh…ahhhhhh…shhhh……ayoo sayang”
Aku paham, gerakan pantat Lisa makin liar. Makin kencang. Kurasakan pula memeknya mulai berdenyut…..sebentar lagi dia meledak, pikirku.
“Ting…tong…”bel rumahku berbunyi.“Mas…..mas Alvinnn….”suara wanita didepan memanggil namaku. Sontak kulepaskan jilatanku. Lisa memandang wajahku dengan wajah pucat. Aku pun memandang wajahnya dengan jantung berdebar.
“Vin..kok kaya suara Risa ya…”Lisa bertanya
“Wah..mau ngapain dia kesini…..gawat dong…”ucapku ketakutan.
“Udah Lis, kamu masuk kamarku dulu deh…cepetan…”
Segera Lisa berjingkat masuk ke kamarku, mungkin sekalian membersihkan tubuhnya karena dikamarku ada kamar mandi. Aku tau ada sebersit ekspresi kecewa di wajahnya, karena Lisa hampir meledakkan orgasmenya, yang terputus oleh kedatangan Risa, sahabatnya sekaligus sahabat istriku.
Setelah kupakai kaos dan celana yang kuambil dari lemari dan cuci muka sedikit, aku menuju ke ruang tamu, membuka pintu.
“Halo, mas….’Pa kabar..?” sahut Risa begitu melihatku membuka pintu.
“Baik, dik. Ayo masuk dulu. Tumben nih pagi-pagi, kayaknya ada yang penting?” tanyaku seraya mengajak Risa menuju ruang tengah. Mataku sedikit terbelalak melihat pakaiannya. Bagaimana tidak?Kaos ketat menempel dibadannya, dipadukan dengan celana spandex ketat berwarna putih.
“Ini lho mas, aku mau anter oleh-oleh. Kan kemarin aku baru dateng dari Jepang. Nah, ini aku bawain ….sedikit bawaan lah, buat kamu sama Intan”
“Wah…tengkyu banget lho…kamu baik banget”
“Ah, biasa aja lagi..hehehe” Kami berdua sejenak ngobrol-ngobrol, karena memang sudah beberapa bulan Risa nggak berkunjung ke rumahku. Risa ini adalah salah satu sahabat istriku, selain Lisa.Diam-diam, akupun juga terobsesi dapat menikmati tubuhnya.
“Hey…bengong aja…ngeliatin apa sih..” tegur Risa
.“Eh…ah…anu…enggak.
Cuma lagi mikir, kapan ya gw bisa jalan-jalan sama kamu…” Eits..kok ngomongku ngelantur begini sih. Aduh…gawat deh…
“Alaaa..mikirin jalan-jalan apa lagi ngeliatin sesuatu?” Risa melirikku dengan pandangan menyelidik. Mati aku…berarti waktu aku ngeliatin bodynya, ketahuan dong kalo aku melototin selangkangannya. Wah….“Ya udah, mas. Aku pamit dulu, abis Intan lagi pergi.
Lagian,dari tadi kamu ngeliatin melulu. Ngeri aku…ntar diperkosa sama kamu deh..hiyyy…” Risa bergidik ambil tertawa.
“Oh ya mas aku numpang pipis dulu ya.”Risa menuju kamar mandi di sebelah kamarku.
“Iya.” sahutku
Tepat saat Risa masuk kamar mandi, sambil berjingkat Lisa keluar dari kamarku. Aku terkejut, dan segera menyuruhnya masuk lagi, karena takut ketahuan. Ternyata CD Linda ketinggalan di kursi yang tadi didudukinya waktu sedang aku jilat memeknya.
“Cepeeeett..ambil trus ke kamar lagi.”perintahku sambil berbisik.Lisa mengangguk, segera menyambar CDnya dan…
“Ceklek….!”Pintu kamar mandi terbuka, dan saat Risa keluar, kulihat wajahnya terkejut melihat Lisa berdiri terpaku dihadapannya sambil memegang celana dalamnya yang belum sempat dipakainya. Ditambah keadaan Lisa yang hanya memaki kaos, tetapi dibawah tidak memakai celana jeansnya. Akupun terkejut, dan berdiri terpaku.
Hatiku berdebar, tak tahu apa yang harus kuperbuat atau kuucapkan. Semuanya terjadi dalam waktu yang sangat singkat dan tak terelakkan. Kepalaku terasa pening.
“Lisa…? Kamu lagi ngapain?” Risa bertanya dengan wajah bingung campur kaget.
“Eh…anu…ini lho…”kudengar
Lisa gelagapan menjawab pertanyaan Risa.
“Kok kamu megang celana dalem? Setengah telanjang lagi?” selidik Risa.
“Oo…aku tau…pasti kamu berdua lagi berbuat yaaa…?”
“Enggak Ris. Ngaco kamu, orang Lisa lagi numpang dandan di kamarku kok.” Sergahku membela diri.
“Trus, kalo emang numpang dandan, ngapain dia diruangan ni, pake bawa celana dalem lagi.” Udah gitu telanjang juga..Hayo!!!” Risa bertanya dengan galak.
“Kamu tuh ya…udah punya istri masih doyan yang lain.
Ini cewek juga sama aja, gatel ngeliat suami sahabatnya sendiri.” Risa memaki kami berdua dengan wajah merah padam.
“Terserah kamu lah…kamu mau laporin aku sama Lisa ke polisi…silakan. Mau laporin ke Intan…terserah….”ucapku pasrah.
“Hmm…kalo aku laporin ke Intan…kasian dia. Nanti dia kaget.Kalo ke polisi….ah…ngrepotin.” Risa meninmbang-nimbang apa yang hendak dilakukannya.
“Gini aja mas. Aku gak laporin ke mana-mana. Tapi ada syaratnya.” Risa memberikan tawarannya kepadaku.
“Apa syaratnya, Ris?”
“Nggak berat kok. Gampang banget dan mudah. Terusin apa yang kamu berdua tadi lakuin. Aku duduk disini, nonton. Bagaimana?”
“WHAT?” aku dan Lisa berteriak bebarengan.
“Gila lu ya, masa mau nonton orang lagi ML?”
“Ya terserah kamu.Mau pilih mana…?”Risa mencibir dengan senyum kemenangan.
Aku dan Lisa saling berpandangan. Kuhampiri Lisa, kubelai tangan dan rambutnya. Lisa seolah memahami dan menyetujui syarat yang diajukan Risa.Segera saja kulumat bibirnya yang ranum dan tanganku meremas pantatnya yang sekel. Lisa segera membuka kaosnya. Sambil terus berciuman dan meremas pantatnya, kubimbing Lisa menuju sofa. Kurebahkan ia disana, dan dengan cekatan dilepaskannya kaos dan celana ku sehingga aku sekarang telanjang bulat di hadapan Lisa dan Risa.
Aku melirik Risa, yang duduk menyilangkan kakinya. Kulihat wajahnya menegang seperti tegangnya kontolku. Aku tersenyum-senyum kearahnya, sambil memainkan dan mengocok-ngocok kontolku, seolah hendak memamerkan kejantananku.
“Ayo, Vinn…cepetan deh…udah gak tahan, sayang…”Lisa merintih.
“Biarin aja si Risa…paling dia juga udah basah.”
“Enak aja kamu bilang.”sergah Risa.
“Udah buruan, aku pengen liat kayak apa sih kalian kalo ML.”
Aku menatap mata Lisa yang mulai sayu dan tersenyum.
Akupun melanjutkan aksiku, “Achhhh….sshhhh….ooouufffffggg…Alvinnn….” Desahan Lisa.
Aku semakin liar menjilati memeknya Lisa, sampai akhirnya.
“Hmmmpppppp…Alvinn…sayaaaanngg.. akh…akh…akkkkkuu…” Lisa terus merintih. Nafasnya tersengal-sengal, seolah ada sesuatu yang mendesaknya.
‘Akku……mmmhhhhh…ssshhh….”
“Keluarin sayang….keluarin yang banyak…..”aku berbisik sambil jari tengahku terus mengocok memeknya, dan lidahku menggesek itilnya yang sudah sangat keras.
Lisa menegang, tangannya menjambak rambutku, sekaligus membenamkan kepalaku ditengah jepitan pahanya yang menegang. Aku merasakan memeknya berdenyut, dan ada lelehan cairan hangat menerpa bibirku.
“ALLVINNN…..AAAAACCCCHHHHHHHHH……”Lisa menjerit keras sekali, menjepit kepalaku dengan pahanya, menekan kepalaku di selangkangannya dan berguncang hebat sekali.Tak kusia-siakan lendir yang meleleh itu. Kusedot semuanya, kutelan semuanya. Ya, aku tidak mau membuang lendir kenikmatan Lisa.
Sedotanku pada memeknya membuat guncangan Lisa makin keras…dan akhirnya Lisa terdiam seperti orang kejang. Tubuhnya kaku dan gemetaran.“Oooohhhh…Vinnn…aaachhh…..” Lisa menceracau sambil gemetaran.“Enn..en….Nik…mat…bangeth….sssse….dotaannn…sama jiilatan kkk…kamu…”
Kulihat Lisa tersenyum dengan wajah puas. Segera kuarahkan bibirku melumat putingnya yang keras dan kemerahan.
.“Shhh…Vinnn…iihhhh…geli….” Lisa menggelinjang saat kuserbu putingnya. Aku tidak mempedulikan rintihannya. Kulumat putingnya dengan ganas sehingga badan Lisa mulai mengejang lagi.
“Acchhh….Alvinnn….sayaaaannggg…”Lisa merintih.
“Terus sayang…iss…ssseeeppp…pen….til…kuhh…ooohhhhhhhhh……”
Tanpa aba-aba, segera kusorongkan kontolku yang memang sudah mengeras seperti kayu ke memeknya Lisa. Blessss…….“Ahhhhkkk…..mmmmppppfff…..ooooooggggghhhh….”pantat Lisa tersentak kedepan, seiring dengan menancapnya kontolku di memeknya. Kutekan kontolku makin dalam dan kuhentikan sejenak disana. Terasa sekali memek Lisa berkedut-kedut.
“Ayo, Vin…..kocok kontol kamuh….akk….kkuuuu….udah mau…keluarrrrr…laggiiiihhh…”Lisa merintih memohon.
Segera kukocokan kontolku dengan ganas. “crep.crep…cplakkk….cplaakkkk…cplaakkkk….” suara gesekan kontolku dengan memek Lisa yang sudah basah kuyup nyaring terdengar.
Sesaat kemudian kulihat mata Lisa terbalik, Cuma terlihat putihnya. Kakinya dilipat mengapit pinggul dan pantatku. Tangannya memeluk ubuhku erat.
“ALL.…VINNN….OOOOGGGHHHH…>AAAKKKKKKKKKKKK….” Lisa menjerit keras dan sekejap terdiam. Tubuhnya bergetar hebat. Terasa di kontolku denyutan memek Lisa…sangat kuat. Berdenyut-denyut, seolah hendak memijit dan memaksa spermaku untuk segera mengguyur menyiram memeknya yang luar biasa becek.
Makin kuat kocokan kontolku didalam memeknya Lisa, makin kencang pula pelukannya.
Nafas Lisa tertahan, seolah tidak ingin kehilangan moment-moment indah menggapai puncak kenikmatan.Karena denyutan memek Lisa yang membuatku nikmat, ditambah rasa hangat karena guyuran lendirnya, aku pun tak tahan. Ditambah ekspresi wajahnya yang memandang wajahku dengan mata sayu namun tersirat kepuasan yang amat sangat.
LIS……LISAAAA….ARGGGGGGHHHHH…”aku merasakan pejuhku mendesak. Kupercepat kocokanku, dan Lisa juga mengencangkan otot memeknya, berharap agar aku cepet muncrat.
AAACCHHHHHHH………..” Crrooooooooootttt…..crrrooooooooottttt..crroooooottttt…..tak kurang dari tujuh kali semprotan spermaku.
Ohhh…Vinnn…enak sayang….nikmat, sayaaannggg…oohhhhhhh……” Lisa merintih lagi.
Setelah beristirahat sejenak secara mendadak kucabut.“Plllookkkkk….”
Lisa segera mengubah posisi duduknya dan…ceeerrrrrr……spermaku meleleh. Segera saja jemari Lisa meraih memeknya, menjaga agar spermaku tidak tumpah kesofa. Akibatnya, telapak tangan Lisa belepotan penuh dengan pejuhku yang telah bercampur lendir memeknya.
Tak lama segera kulirik Risa, yang ternyata tanpa kami sadari tengah beraktivitas sendiri. Tangannya menggosok-nggosok spandexnya, yang mulai membasah. Pertanda bahwa Risa juga telah dilanda birahi.
Lisa mencolek tanganku, rupanya ia ingin mengerjai Risa. Aku setuju. Sambil berjingkat, aku dan Lisa menghampiri Risa. Segera tangan Lisa yang masih ada sisa spermakuku dioleskan kemuka dan bibir Risa.
“MMppphhhh…..fffggghhh…..” Risa sontak terkejut dan menghentikan aktivitasnya.
“Apaan nih…kok kayak bau sperma…?”
“Udahlah Ris….aku tau kamu juga ikutan horny, ngeliat aku ML sama mas Alvin.” Lisa tersenyum-senyum genit.
“AH…aku…eeehh….anuu….” Risa gelagapan kehabisan kata-kata.
“Ris…kalo kamu juga horny, gak papa kok…aku masih kuat.” Tantangku.
“Tuh, kamu liat. Kontolku masih bisa bangun.”Ya, walaupun sudah menyemprotkan amunisinya dua kali permainan, kontolku mash berdiri walaupun tak sekeras waktu ML sama Lisa.
“Tapi nanti kalo Intan pulang gimana?” tanya Risa.
“Kalo memang kepergok, nanti aku bantu jelasin ke Intan.” Hibur Lisa.
Gak pake lama segera kulumat bibir Risa yang mungil.“Mmmpphhh…mmppfff……..aaahhhh…”Risa mendesah….”Alvinnn…puasin aku sayang……guyur aku dengan spermamu kayak Lisa tadi….oooccchhhhh…..”Aku terus melumat bibirnya..lehernya yang jenjang dan mulus…kujilat pula telinganya yang membuat Risa merinding dan tersengal-sengal.
Ternyata salah satu titik rangsangannya adalah telinganya. Lisa pun membantu melepaskan spandex Rika.
Lisa juga membantu Risa melepaskan CD, kaos dan BHnya.
“Ohhh…Vinnn,,,,sssshhhhh….hhhaaaaaarrrggghhh….mmmppphhhhh…..”Risa merintih-rintih sambil mengelengkan kepalanya saat bibirku turun ke putingnya. Payudara Risa lebih kecil dari Lisa, mungkin hanya 34B, dibandingkan milik Lisa yang 36C.
Dan…hap….kusedot putting kiri, sementara tangan kananku meremas payudara sebelah kanan dan memelintir putingnya.“Auuuccchhhh..Alvviinnnn…ampunnnn…amppuuuuuunnnnn…..”Risa berteriak menahan nikmat saat jari tangan kiriku menyusuri memeknya.
Kumasukkan jari tengahku sambil jempolku menggosok itil Risa yang sangat keras.
“Ris…kontol Alvin diusap dong…biar cepet keras…” ujar Lisa. Segera tanpa diperintah dua kali, Risa segera meraih kontolku, mengusap dan mengocok bergantian.“Uffff…Risa sayaaanng…”aku merintih menahan nikmat.
Ternyata Risa sangat terampil dalam urusan kocok mengocok, sehingga tak perlu waktu lama kontolku sudah sekeras kayu lagi, mengkilat kemerahan.Tak sabar segera kubalikkan tubuh Risa, sehingga posisinya sekarang nungging didepanku. Lututnya bertumpu pada sofa panjang, sehingga punggungnya meliuk, menambah sexy posisinya saat itu.
Dengan pantat membulat, tampak bibir memek Risa merekah merah dan berkilat licin oleh cairan birahinya. Tak tahan, kuserbu memek Risa, kujilat itilnya dan kumasukan tanganku sambil mengocok memeknya.
“Arggghhh…Alvinn….oohhhh….nik..mat…sss…sseekkk..kali……say….yaannnggg….”Risa menjerit sambil tersengal.
Napasnya memburu.“Akk..kku…hammm..ppir sampai, sayangggg…”Risa terus merintih.
Ah…ternyata Risa tak sanggup bertahan lebih lama lagi. Terasa sekali dibibirku, suhu memek Risa makin panas, dan lendirnya bertambah banyak mengalir. Segera saja kuarahkan kontolku yang menunggu giliran, merojok memek Risa.
“Ugghhhh……aaacccgghhhhhh…Alviinnn………”pantat Risa tersentak menerima hunjaman kontolku yang begitu tiba-tiba.Nikmat sekali memek Risa. Meskipun sama-sama becek dan mampu berdenyut, aku merasakan sensasi lain dibandingkan memek Lisa. Makin lama makin terasa memek Risa berdenyut-denyut.
Tak ada suara yang keluar dari bibir Risa, kecuali erangan dan rintihan. Kurasakan otot disekitar pantat dan selangkangannya mengejang dan tiba-tiba Risa menekan pantatku sambil melolong….
“OOOOUUUWWWWWW….ALVVIINNNN…..UUUUUUHHHHHH…..”Nafas Risa tertahan, dan kupercepat hunjaman kontolku, seolah menyerbu memek Risa bertubi-tubi.
Ahh…..betapa hangat lendir birahi yang mengalir, bahkan sampai meleleh membasahi pahaku dan paha Risa. Risa tetap menggoyang-goyangkan pantatnya, sehingga membuatku makin bernafsu menggocok kontolku dalam memeknya yang becek namun sempit.
“Ayoo sayyannngg…keluariinn di mulutt aakkuu….,”Rika menoleh dan menatapku dengan mata sayu seolah memohon agar kusemprotkan spermaku dimulutnya.
“Ohhhhh….aaaawwwgghhh….Risaaaaa…memek kamu ennnnaaakk bangethhh sssssiiiccchhh….,
”aku menceracau sambil terus memaju mundurkan pantatku “aakkk…..kkkuuuu….pengennnnhhhh….keeellluarrr......aaarrrrggghhh….RIIISSAAAAAAAAAA……,”aku berteriak keras sambil mencabut kontolku.
Risa pun meraih kontolku, mengocoknya sambil mengisap kepala dan batangnya. “ayoo sayaanngg.....keluarin spermamu….Aku pengen ngerasain sperma kamu….”Lisa pun tak tinggal diam. Ia berbaring telentang dibawahku dan menjilat bijiku, seolah tau bahwa itu adalah daerah sensitifku. Ya, aku paling gak tahan kalo bijiku dijilat.AAAARRRGGGHHHH….LISAAAAAA….gila kamu….aaarrrghhhh…..nnnniiikk…mattt..bangetttt…..”
“Aku gak tahan, Risaaa…Lisaaa….sayangku cintaku…..”Dan…..crrroooooottt….crroooootttt…..“Haeeppphh…eeelllppphhhhh….hhhmmmppphhhhh…..”suara dari mulut Risa.
Tampak dia gelagapan menerima semburan spermaku, tak kurang dari 5semburan kencang dan banyak…
“Aaaahhh…..ooouuffhh….auuww…ooouuww…udah Ris…udah…udah…jangan diisep teruss…gelllliiii…..”aku meringis kegelian karena Risa tetep mengisap kontolku, seolah tak rela kalo spermaku tak keluar tuntas. Seolah ingin menikmati spermaku hingga tetes terakhir.
“Hmmm…udah puas kamu Ris?” tanya Lisa
“Ahh…gila juga si Alvin ya…kontol panjang dan nikmat banget”sahut Risa.
Setelah membersihkan diri tak lama Lisa dan Risa pamit
“Ok Vin…aku pamit dulu ya…,”Risa pamit sambil mengecup bibirku.
“Daaa, sayang…”“Mmmuuaachh…,” Lisa juga berpamitan. “Salam buat Intan ya…tapi jangan bilang lho, kalo kamu habis bagi-bagi spermamu…xixixi..” Risa dan Lisa cekikikan sambil berjalan keluar.
“Ok, sayang…thanks ya…”sahutku sambil melambaikan tangan dan mengantar mereka ke pagar.
Ah, betapa bahagianya aku, ternyata dua sahabat istriku tak keberatan olah sex denganku, yang selama ini hanya khayalanku, kini telah menjadi kenyataan. Thanks buat Risa dan Lisa…kuharap kalian gak bosen, karena akupun tak akan pernah bosan menikmati tubuhmu. AGEN POKER TERPERCAYA
Yah, beginilah nasib auditor kalau lagi dikejar laporan audit. Untung saja, ada anggota timku yang bisa mengurangi keteganganku. Ya, Arumi tentunya, yang semalam telah memberikan servis untukku. Baginya, bersetubuh dengan lelaki lain selain suaminya bukan hal yang tabu. Aku tersenyum mengingat kejadian semalam. Sebenarnya jam 11 malam kami sepakat untuk pulang kantor, tapi ternyata aku dan Agnes sama2 lagi horny. Akhirnya, terjadilah seperti yang sudah kuceritakan diatas. Tak terasa, aku mulai horny lagi. kontolku pelan2 mengangguk-angguk dan mulai mengacung.“Walah…repot bener nih, pikirku. “Lagi sendiri, eh ngaceng.” Kebetulan, di rumah tidak ada pembantu, karena istriku, Intan, lebih suka bersih2 rumah sendiri dibantu kedua anakku. “Biar anak-anak gak manja dan bisa belajar mandiri. Lagian, bisa menghemat pengeluaran,” kilah istriku. Aku setuju saja. AGEN POKER TERPERCAYA
Kurebahkan tubuhku di sofa ruang tengah, menonton bokep. Sengaja kusetel, biar hasratku cepet tuntas. Setelah kubuka celanaku, aku sekarang hanya pakai kaos, dan tidak pakai celana. Pelan-pelan kuurut dan kukocok kontolku.
Aku pun teringat Lisa, sahabat istriku. Dia adalah sahabat istriku dan sering juga main kerumahku. Kadang sendiri, kadang bersama keluarganya. Ya, aku memang sering berfantasi sedang menyetubuhi Lisa. Tubuhnya mungil, setinggi Arumi, tapi lebih gendut. Yang kukagumi adalah kulitnya yang sangat-sangat-sangat putih mulus, seperti warna patung lilin. Dan pantatnya yang membulat indah, sering membuatku ngaceng kalo dia berkunjung.
Aku hanya bisa membayangkan seandainya tubuh mulus Lisa bisa kujamah, pasti nikmat sekali. Fantasiku ini ternyata membuat kontolku makin keras, merah padam dan cairan bening itu mengalir dengan deras. Ah Lisa…seandainya aku bisa menyentuhmu..dan kamu mau ngocokin kontolku..begitu pikiranku saat itu.
Lagi enak-enak ngocok sambil nonton bokep dan membayangkan Lisa, terdengar suara langkah sepatu dan seseorang memanggil-manggil istriku.“Tan…Intan…aku dateng,” seru suara itu…Oh my gosh…itu suara Lisa…mau ngapain dia kesini, pikirku. Kapan masuknya, kok gak kedengaran? Lisa memang tidak pernah mengetuk pintu kalau ke rumahku, karena keluarga kami sudah sangat akrab dengan dia dan keluarganya.
Belum sempat aku berpikir dan bertindak untuk menyelamatkan diri, tau-tau Lisa udah nongol di ruang tengah, dan…“AAAHHH…ALVINNN…!!!!,”jeritnya.
“Kamu lagi ngapain?”“Aku…eh…anu…aku….ee…lagi…ini…,”aku tak bisa menjawa pertanyaannya. Gugup. Panik. Sal-ting. Semua bercampur jadi satu. Orang yang selama ini hanya ada dalam fantasiku, tiba-tiba muncul dihadapanku, langsung melihatku dalam keadaan telanjang, gak pake celana, Cuma kaos aja. Ngaceng pula.
“Kamu dateng kok gak ngabarin dulu sih?” aku protes.
“Udah, sana, pake celana dulu!” Pagi-pagi telanjang, nonton bokep sendirian,lagi ngapain sih?”ucapnya sambil duduk di kursi didepanku.
“Yee…namanya juga lagi horny…ya udah mending colai sambil nonton bf. Lagian anak-anak sama mamanya lagi pergi ke sekolah. Ya udah, self service,”sahutku.
“Udah,Vin. Sana pake celana dulu. Kamu gak risih apa?”
“Ah, kepalang tanggung kamu dah liat? Ngapain juga dtitutupin? Telat donk,”kilahku.
“Dasar kamu ya. Ya, udah deh, aku pamit dulu. Salam aja buat istrimu. Sana, terusin lagi.” Lisa beranjak dari duduknya, dan pamit pulang.
Buru-buru aku mencegahnya. “Lisa, ntar dulu lah…,”pintaku.
“Apaan sih, orang aku mau ngajak Intan jalan, dia nggak ada ya udah, aku mau jalan sendiri,”sahutnya.
“Bentar deh Lisa”pintaku.
Tolongin aku, gak lama kok, paling sepuluh menit,”aku berusaha merayunya.
“Gila kamu ya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”Lisa protes sambil melotot.
“Lis, Aku gak minta kamu untuk melakukan hal itu. Enggak. Aku Cuma minta tolong, kamu duduk didepanku, sambil liatin aku colai.”
“Gimana?”Linda tidak menjawab.
“Ok, Lis. Aku janji gak ndeketin apalagi menyentuh kamu.
Tapi, sebelum itu, kamu juga buka bajumu dong…pake BH sama CD aja deh, gak usah telanjang. Kan kamu dah liat punyaku, please?” aku merayunya dengan sedikit memelas sekaligus khawatir.
“Hm…fine deh. Aku bantuin deh…tapi bener ya, aku masih pake BH dan CDku dan kamu gak nyentuh aku ya. Janji lho,”katanya.
“Ya udah deh, aku buka baju di kamar dulu.”
“Gak usah, disini aja,”sahutku.
Perlahan, dibukanya kemejanya…dan…ah payudara itu menyembul keluar. Payudara yang terbungkus BH sexy berwarna merah. Seteah itu, diturunkannya zip celana jeansnya, dan dibukanya kancing celananya.
Perlahan celana itu terlepas dari kaki yang dibungkusnya. Wow…aku terbelalak melihatnya. Paha itu sangat putih sekali. Selangkangannya masih terbungkus celana dalam mini berbahan satin, sewarna dengan BHnya.
“Nih, aku udah buka baju. Dah, kamu terusin lagi colinya. Aku duduk ya.”
Lisa segera duduk, dan hendak menyilangkan kakinya. Buru-buru aku cegah.
“Duduknya jangan gitu dong…Kamu duduk biasa aja, tapi kakimu di buka dikit, jadi aku bisa liat celana dalam sama selangkanganmu. Toh memek kamu gak keliatan?”usulku.
“Iya…iya…ni anak rewel banget ya. Mau colai aja pake minta macem-macem,”Lisa masih saja protes dengan permintaanku.
“Aku lanjut ya colinya.”
Sambil memandangi tubuh Lisa, aku terus mengocok kontolku, tapi kulakukan dengan perlahan, karena aku nggak mau cepet-cepet ejakulasi. Sayang, kalau pemandangan langka ini berlalau terlalu cepat. Aku pun menceracau, tapi Linda tidak menanggapi omonganku.
“Oh…Liiiiss….kamu kok mulus banget siiiihhh….” “Susumu montok bangeeeettttt… pahamu sekel dan putiiiihhhh….hhhhh….pantatmu yang indah bikin aku ngaceng, Liiiiiiss……” aku terus menceracau. Linda menatapku dan tersenyum dan kini bergantian, Lisa menatap wajahku dan sesekali melirik ke arah kontolku yang terus saja ngaceng dan mengeluarkan lendir dari ujung lobangnya. Aku merintih dan menceracau memuji keindahan tubuhnya. Sekaligus aku berharap, kata-kataku dapat membuatnya terangsang.
Lisa masih tetap diam, dan tersenyum tapi aku menangkap sinyal kalo ternyata Lisa juga mulai terangsang dengan aktivitasku. Karena celana dalamnya berbahan satin dan tipis, jelas sekali terlihat ada noda cairan di sekitar selangkannya. Duduknya pun mulai gelisah. Tangannya mulai meraba dadanya, dan tangan yang satunya turun meraba paha dan selangkangannya.
Aku sengaja menutup mata tetapi setelah beberapa saat, aku membuka sedikit mataku, kulihat tangan kiri Lisa meremas payudaranya dan owww…BH sebelah kiri ternyata sudah diturunkan…Astagaaa..!!! Puting itu merah sekali…tegak mengacung. Lisa memilin-milin putingnya, dan tangan kanannya ternyata telah menyusup ke dalam celana dalamnya.
“Sssshh….oofff….hhhhhh…..:” Kudengar suaranya mendesis seolah menahan kenikmatan. Aku kembali memejamkan mataku dan meneruskan kocokan pada kontolku sambil menikmati rintihan-rintihan Lisa.
Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang hangat…basah…lembut…menerpa kontol dan tanganku. Aku membuka mata dan terpekik. My gosh…perlahan impin dan obsesiku menjadi kenyataan. Kontolku dibelai dan dikocok dengan tangan Lisa yang putih mulus.
Aku mendesis dan membelai rambut Lisa. Sebuah kejadian tak terduga tetapi sangat kunantikan…akhirnya kontolku masuk ke mulutnya.
Tak tahan dengan perlakuan sepihak Lisa, kutarik pinggulnya dan buru-buru kulepaskan CDnya. Jariku sibuk mengusap dan meremas pantat putih nan montok, yang selama ini hanya menjadi khayalanku.
“Ohh..Lis…boleh ya aku megang pantat dan memek kamu?”pintaku.
“Terserah…yang penting kamu puas.”Segera kuremas-remas pantat Lisa yang montok.
Puas dengan pantatnya, kuarahkan jariku turun ke anus dan memeknya. Lisa merintih menahan rasa nikmat akibat usapan jariku.
“Achh…Liiiissaa…enak bangeeeeett….sssshhh…….”aku menceracau menikmati jilatan lidah dan hangatnya mulut Lisa saat mengenyot kontolku. Betul-betul menggairahkan melihat bibir dan lidahnya yang merah menyapu lembut kepala dan batang kelelakianku.
Hingga akhirnya….“Liiissaa….bibir kamu lembut banget sayaaaannggg….aahhhh…akuuu…”
“Keluarin sayang…kontol kamu udah berdenyut tuh….udah mau muncrat
yaaa….”
“I…iiy…iiyyaaa….Liiiiissss….Ouuuuuhhhhhh…..argggghhhhhhhhhh…..”Tak dapat kutahan lagi. Bobol sudah pertahananku. Crottt…..crooottt….crooootttt…Spermaku muncrat sejadi-jadinya di muka, bibir dan dada Lisa. Tangan halus Lisa tak berhenti mengocok batang kejantananku, seolah ingin melahap habis cairan yang kumuntahkan Ohhhh....Obsesiku tercapai…pagi ini aku muncratin spermaku di bibir dan muka Lisa.
“Lis…kamu gak geli sayang…? Bibir, muka sama dada kamu kena spermaku?” Lisa menggeleng dengan pandangan sayu.
Tangannya masih tetap memainkan kontolku yang sedikit melemas.
Vin terus terang, bau sperma kamu seger banget…kamu rajin maka buah sama sayur ya?” tanya Lisa.
“Iya...Kenapa Lis? Penasaran sama rasanya? Lha itu spremaku masih meleleh di muka sama dada kamu.
Coba aja rasanya,”sahutku.
“Mmmm…ssllrppp….” terdengar lidah dan bibir Lisa mengecap spermaku. Dengan jarinya yang lentik, disapunya spermaku yang tumpah didada dan mukanya, kemudian dijilatnya jarinya sampe bersih.“Iya, Vin, sperma kamu kok enak ya.
Aku gak ngerasa enek pas nelen sperma kamu…”
”Mau lagi….?”
“Ih…kamu tuch ya…masih kurang, Vin?”
“Lha kan baru oral belum masuk ke memek kamu, Lis.” Sahutku…”
“Tuh, liat…bangun lagi kan?”
“Dasar kamu ya….”
“Bener kamu gak mau spermaku ? Ya udah kalo gitu, aku mau bersih-bersih dulu.”ancamku sambil bangkit dari kursi.
“Mau sih…Cuma takut kalo Intan dateng…gimana donk….”Lisa merajuk.
Perlahan kuhampiri Lisa, kuminta dia duduk di sofa, sambil kedua kakiya diangkat mengangkang. Kulihat memeknya yang licin karena cairannya meleleh akibat perbuatan jariku.
“Hmmm…Lis…memek kamu masih basah…kamu masih horny dong…”tanyaku.
“Udah, Vin….cepetan deh…nanti istrimu keburu dateng…Lagian aku udah…Auuuwwww….!!!! Ohhh..Shhhhh…….”Lisa mendesah saat lidahku menari diujung itilnya.“Vinnn…kamu gilaaa yaaa…”bisiknya samil menjambak rambutku.
Kumainkan lidahku diitilnya yang udah membengkak. Perlahan kumasukkan telunjukku, ke dalam lubang memeknya. Akibatnya luar biasa. Lisa makin meronta dan merintih. Jambakannya makin kuat. Cairan birahinya makin membasahi lidah dan mulutku. Tentu saja hal ini tak kusia-siakan.
Kusedot kuat agar aku dapat menelan cairan yang meleleh dari memeknya. Ya…aroma memek Lisa lain dengan aroma memek istriku.
“Ayoo..Vin…jilat terusss…ochhh…ahhhhhh…shhhh……ayoo sayang”
Aku paham, gerakan pantat Lisa makin liar. Makin kencang. Kurasakan pula memeknya mulai berdenyut…..sebentar lagi dia meledak, pikirku.
“Ting…tong…”bel rumahku berbunyi.“Mas…..mas Alvinnn….”suara wanita didepan memanggil namaku. Sontak kulepaskan jilatanku. Lisa memandang wajahku dengan wajah pucat. Aku pun memandang wajahnya dengan jantung berdebar.
“Vin..kok kaya suara Risa ya…”Lisa bertanya
“Wah..mau ngapain dia kesini…..gawat dong…”ucapku ketakutan.
“Udah Lis, kamu masuk kamarku dulu deh…cepetan…”
Segera Lisa berjingkat masuk ke kamarku, mungkin sekalian membersihkan tubuhnya karena dikamarku ada kamar mandi. Aku tau ada sebersit ekspresi kecewa di wajahnya, karena Lisa hampir meledakkan orgasmenya, yang terputus oleh kedatangan Risa, sahabatnya sekaligus sahabat istriku.
Setelah kupakai kaos dan celana yang kuambil dari lemari dan cuci muka sedikit, aku menuju ke ruang tamu, membuka pintu.
“Halo, mas….’Pa kabar..?” sahut Risa begitu melihatku membuka pintu.
“Baik, dik. Ayo masuk dulu. Tumben nih pagi-pagi, kayaknya ada yang penting?” tanyaku seraya mengajak Risa menuju ruang tengah. Mataku sedikit terbelalak melihat pakaiannya. Bagaimana tidak?Kaos ketat menempel dibadannya, dipadukan dengan celana spandex ketat berwarna putih.
“Ini lho mas, aku mau anter oleh-oleh. Kan kemarin aku baru dateng dari Jepang. Nah, ini aku bawain ….sedikit bawaan lah, buat kamu sama Intan”
“Wah…tengkyu banget lho…kamu baik banget”
“Ah, biasa aja lagi..hehehe” Kami berdua sejenak ngobrol-ngobrol, karena memang sudah beberapa bulan Risa nggak berkunjung ke rumahku. Risa ini adalah salah satu sahabat istriku, selain Lisa.Diam-diam, akupun juga terobsesi dapat menikmati tubuhnya.
“Hey…bengong aja…ngeliatin apa sih..” tegur Risa
.“Eh…ah…anu…enggak.
Cuma lagi mikir, kapan ya gw bisa jalan-jalan sama kamu…” Eits..kok ngomongku ngelantur begini sih. Aduh…gawat deh…
“Alaaa..mikirin jalan-jalan apa lagi ngeliatin sesuatu?” Risa melirikku dengan pandangan menyelidik. Mati aku…berarti waktu aku ngeliatin bodynya, ketahuan dong kalo aku melototin selangkangannya. Wah….“Ya udah, mas. Aku pamit dulu, abis Intan lagi pergi.
Lagian,dari tadi kamu ngeliatin melulu. Ngeri aku…ntar diperkosa sama kamu deh..hiyyy…” Risa bergidik ambil tertawa.
“Oh ya mas aku numpang pipis dulu ya.”Risa menuju kamar mandi di sebelah kamarku.
“Iya.” sahutku
Tepat saat Risa masuk kamar mandi, sambil berjingkat Lisa keluar dari kamarku. Aku terkejut, dan segera menyuruhnya masuk lagi, karena takut ketahuan. Ternyata CD Linda ketinggalan di kursi yang tadi didudukinya waktu sedang aku jilat memeknya.
“Cepeeeett..ambil trus ke kamar lagi.”perintahku sambil berbisik.Lisa mengangguk, segera menyambar CDnya dan…
“Ceklek….!”Pintu kamar mandi terbuka, dan saat Risa keluar, kulihat wajahnya terkejut melihat Lisa berdiri terpaku dihadapannya sambil memegang celana dalamnya yang belum sempat dipakainya. Ditambah keadaan Lisa yang hanya memaki kaos, tetapi dibawah tidak memakai celana jeansnya. Akupun terkejut, dan berdiri terpaku.
Hatiku berdebar, tak tahu apa yang harus kuperbuat atau kuucapkan. Semuanya terjadi dalam waktu yang sangat singkat dan tak terelakkan. Kepalaku terasa pening.
“Lisa…? Kamu lagi ngapain?” Risa bertanya dengan wajah bingung campur kaget.
“Eh…anu…ini lho…”kudengar
Lisa gelagapan menjawab pertanyaan Risa.
“Kok kamu megang celana dalem? Setengah telanjang lagi?” selidik Risa.
“Oo…aku tau…pasti kamu berdua lagi berbuat yaaa…?”
“Enggak Ris. Ngaco kamu, orang Lisa lagi numpang dandan di kamarku kok.” Sergahku membela diri.
“Trus, kalo emang numpang dandan, ngapain dia diruangan ni, pake bawa celana dalem lagi.” Udah gitu telanjang juga..Hayo!!!” Risa bertanya dengan galak.
“Kamu tuh ya…udah punya istri masih doyan yang lain.
Ini cewek juga sama aja, gatel ngeliat suami sahabatnya sendiri.” Risa memaki kami berdua dengan wajah merah padam.
“Terserah kamu lah…kamu mau laporin aku sama Lisa ke polisi…silakan. Mau laporin ke Intan…terserah….”ucapku pasrah.
“Hmm…kalo aku laporin ke Intan…kasian dia. Nanti dia kaget.Kalo ke polisi….ah…ngrepotin.” Risa meninmbang-nimbang apa yang hendak dilakukannya.
“Gini aja mas. Aku gak laporin ke mana-mana. Tapi ada syaratnya.” Risa memberikan tawarannya kepadaku.
“Apa syaratnya, Ris?”
“Nggak berat kok. Gampang banget dan mudah. Terusin apa yang kamu berdua tadi lakuin. Aku duduk disini, nonton. Bagaimana?”
“WHAT?” aku dan Lisa berteriak bebarengan.
“Gila lu ya, masa mau nonton orang lagi ML?”
“Ya terserah kamu.Mau pilih mana…?”Risa mencibir dengan senyum kemenangan.
Aku dan Lisa saling berpandangan. Kuhampiri Lisa, kubelai tangan dan rambutnya. Lisa seolah memahami dan menyetujui syarat yang diajukan Risa.Segera saja kulumat bibirnya yang ranum dan tanganku meremas pantatnya yang sekel. Lisa segera membuka kaosnya. Sambil terus berciuman dan meremas pantatnya, kubimbing Lisa menuju sofa. Kurebahkan ia disana, dan dengan cekatan dilepaskannya kaos dan celana ku sehingga aku sekarang telanjang bulat di hadapan Lisa dan Risa.
Aku melirik Risa, yang duduk menyilangkan kakinya. Kulihat wajahnya menegang seperti tegangnya kontolku. Aku tersenyum-senyum kearahnya, sambil memainkan dan mengocok-ngocok kontolku, seolah hendak memamerkan kejantananku.
“Ayo, Vinn…cepetan deh…udah gak tahan, sayang…”Lisa merintih.
“Biarin aja si Risa…paling dia juga udah basah.”
“Enak aja kamu bilang.”sergah Risa.
“Udah buruan, aku pengen liat kayak apa sih kalian kalo ML.”
Aku menatap mata Lisa yang mulai sayu dan tersenyum.
Akupun melanjutkan aksiku, “Achhhh….sshhhh….ooouufffffggg…Alvinnn….” Desahan Lisa.
Aku semakin liar menjilati memeknya Lisa, sampai akhirnya.
“Hmmmpppppp…Alvinn…sayaaaanngg.. akh…akh…akkkkkuu…” Lisa terus merintih. Nafasnya tersengal-sengal, seolah ada sesuatu yang mendesaknya.
‘Akku……mmmhhhhh…ssshhh….”
“Keluarin sayang….keluarin yang banyak…..”aku berbisik sambil jari tengahku terus mengocok memeknya, dan lidahku menggesek itilnya yang sudah sangat keras.
Lisa menegang, tangannya menjambak rambutku, sekaligus membenamkan kepalaku ditengah jepitan pahanya yang menegang. Aku merasakan memeknya berdenyut, dan ada lelehan cairan hangat menerpa bibirku.
“ALLVINNN…..AAAAACCCCHHHHHHHHH……”Lisa menjerit keras sekali, menjepit kepalaku dengan pahanya, menekan kepalaku di selangkangannya dan berguncang hebat sekali.Tak kusia-siakan lendir yang meleleh itu. Kusedot semuanya, kutelan semuanya. Ya, aku tidak mau membuang lendir kenikmatan Lisa.
Sedotanku pada memeknya membuat guncangan Lisa makin keras…dan akhirnya Lisa terdiam seperti orang kejang. Tubuhnya kaku dan gemetaran.“Oooohhhh…Vinnn…aaachhh…..” Lisa menceracau sambil gemetaran.“Enn..en….Nik…mat…bangeth….sssse….dotaannn…sama jiilatan kkk…kamu…”
Kulihat Lisa tersenyum dengan wajah puas. Segera kuarahkan bibirku melumat putingnya yang keras dan kemerahan.
.“Shhh…Vinnn…iihhhh…geli….” Lisa menggelinjang saat kuserbu putingnya. Aku tidak mempedulikan rintihannya. Kulumat putingnya dengan ganas sehingga badan Lisa mulai mengejang lagi.
“Acchhh….Alvinnn….sayaaaannggg…”Lisa merintih.
“Terus sayang…iss…ssseeeppp…pen….til…kuhh…ooohhhhhhhhh……”
Tanpa aba-aba, segera kusorongkan kontolku yang memang sudah mengeras seperti kayu ke memeknya Lisa. Blessss…….“Ahhhhkkk…..mmmmppppfff…..ooooooggggghhhh….”pantat Lisa tersentak kedepan, seiring dengan menancapnya kontolku di memeknya. Kutekan kontolku makin dalam dan kuhentikan sejenak disana. Terasa sekali memek Lisa berkedut-kedut.
“Ayo, Vin…..kocok kontol kamuh….akk….kkuuuu….udah mau…keluarrrrr…laggiiiihhh…”Lisa merintih memohon.
Segera kukocokan kontolku dengan ganas. “crep.crep…cplakkk….cplaakkkk…cplaakkkk….” suara gesekan kontolku dengan memek Lisa yang sudah basah kuyup nyaring terdengar.
Sesaat kemudian kulihat mata Lisa terbalik, Cuma terlihat putihnya. Kakinya dilipat mengapit pinggul dan pantatku. Tangannya memeluk ubuhku erat.
“ALL.…VINNN….OOOOGGGHHHH…>AAAKKKKKKKKKKKK….” Lisa menjerit keras dan sekejap terdiam. Tubuhnya bergetar hebat. Terasa di kontolku denyutan memek Lisa…sangat kuat. Berdenyut-denyut, seolah hendak memijit dan memaksa spermaku untuk segera mengguyur menyiram memeknya yang luar biasa becek.
Makin kuat kocokan kontolku didalam memeknya Lisa, makin kencang pula pelukannya.
Nafas Lisa tertahan, seolah tidak ingin kehilangan moment-moment indah menggapai puncak kenikmatan.Karena denyutan memek Lisa yang membuatku nikmat, ditambah rasa hangat karena guyuran lendirnya, aku pun tak tahan. Ditambah ekspresi wajahnya yang memandang wajahku dengan mata sayu namun tersirat kepuasan yang amat sangat.
LIS……LISAAAA….ARGGGGGGHHHHH…”aku merasakan pejuhku mendesak. Kupercepat kocokanku, dan Lisa juga mengencangkan otot memeknya, berharap agar aku cepet muncrat.
AAACCHHHHHHH………..” Crrooooooooootttt…..crrrooooooooottttt..crroooooottttt…..tak kurang dari tujuh kali semprotan spermaku.
Ohhh…Vinnn…enak sayang….nikmat, sayaaannggg…oohhhhhhh……” Lisa merintih lagi.
Setelah beristirahat sejenak secara mendadak kucabut.“Plllookkkkk….”
Lisa segera mengubah posisi duduknya dan…ceeerrrrrr……spermaku meleleh. Segera saja jemari Lisa meraih memeknya, menjaga agar spermaku tidak tumpah kesofa. Akibatnya, telapak tangan Lisa belepotan penuh dengan pejuhku yang telah bercampur lendir memeknya.
Tak lama segera kulirik Risa, yang ternyata tanpa kami sadari tengah beraktivitas sendiri. Tangannya menggosok-nggosok spandexnya, yang mulai membasah. Pertanda bahwa Risa juga telah dilanda birahi.
Lisa mencolek tanganku, rupanya ia ingin mengerjai Risa. Aku setuju. Sambil berjingkat, aku dan Lisa menghampiri Risa. Segera tangan Lisa yang masih ada sisa spermakuku dioleskan kemuka dan bibir Risa.
“MMppphhhh…..fffggghhh…..” Risa sontak terkejut dan menghentikan aktivitasnya.
“Apaan nih…kok kayak bau sperma…?”
“Udahlah Ris….aku tau kamu juga ikutan horny, ngeliat aku ML sama mas Alvin.” Lisa tersenyum-senyum genit.
“AH…aku…eeehh….anuu….” Risa gelagapan kehabisan kata-kata.
“Ris…kalo kamu juga horny, gak papa kok…aku masih kuat.” Tantangku.
“Tuh, kamu liat. Kontolku masih bisa bangun.”Ya, walaupun sudah menyemprotkan amunisinya dua kali permainan, kontolku mash berdiri walaupun tak sekeras waktu ML sama Lisa.
“Tapi nanti kalo Intan pulang gimana?” tanya Risa.
“Kalo memang kepergok, nanti aku bantu jelasin ke Intan.” Hibur Lisa.
Gak pake lama segera kulumat bibir Risa yang mungil.“Mmmpphhh…mmppfff……..aaahhhh…”Risa mendesah….”Alvinnn…puasin aku sayang……guyur aku dengan spermamu kayak Lisa tadi….oooccchhhhh…..”Aku terus melumat bibirnya..lehernya yang jenjang dan mulus…kujilat pula telinganya yang membuat Risa merinding dan tersengal-sengal.
Ternyata salah satu titik rangsangannya adalah telinganya. Lisa pun membantu melepaskan spandex Rika.
Lisa juga membantu Risa melepaskan CD, kaos dan BHnya.
“Ohhh…Vinnn,,,,sssshhhhh….hhhaaaaaarrrggghhh….mmmppphhhhh…..”Risa merintih-rintih sambil mengelengkan kepalanya saat bibirku turun ke putingnya. Payudara Risa lebih kecil dari Lisa, mungkin hanya 34B, dibandingkan milik Lisa yang 36C.
Dan…hap….kusedot putting kiri, sementara tangan kananku meremas payudara sebelah kanan dan memelintir putingnya.“Auuuccchhhh..Alvviinnnn…ampunnnn…amppuuuuuunnnnn…..”Risa berteriak menahan nikmat saat jari tangan kiriku menyusuri memeknya.
Kumasukkan jari tengahku sambil jempolku menggosok itil Risa yang sangat keras.
“Ris…kontol Alvin diusap dong…biar cepet keras…” ujar Lisa. Segera tanpa diperintah dua kali, Risa segera meraih kontolku, mengusap dan mengocok bergantian.“Uffff…Risa sayaaanng…”aku merintih menahan nikmat.
Ternyata Risa sangat terampil dalam urusan kocok mengocok, sehingga tak perlu waktu lama kontolku sudah sekeras kayu lagi, mengkilat kemerahan.Tak sabar segera kubalikkan tubuh Risa, sehingga posisinya sekarang nungging didepanku. Lututnya bertumpu pada sofa panjang, sehingga punggungnya meliuk, menambah sexy posisinya saat itu.
Dengan pantat membulat, tampak bibir memek Risa merekah merah dan berkilat licin oleh cairan birahinya. Tak tahan, kuserbu memek Risa, kujilat itilnya dan kumasukan tanganku sambil mengocok memeknya.
“Arggghhh…Alvinn….oohhhh….nik..mat…sss…sseekkk..kali……say….yaannnggg….”Risa menjerit sambil tersengal.
Napasnya memburu.“Akk..kku…hammm..ppir sampai, sayangggg…”Risa terus merintih.
Ah…ternyata Risa tak sanggup bertahan lebih lama lagi. Terasa sekali dibibirku, suhu memek Risa makin panas, dan lendirnya bertambah banyak mengalir. Segera saja kuarahkan kontolku yang menunggu giliran, merojok memek Risa.
“Ugghhhh……aaacccgghhhhhh…Alviinnn………”pantat Risa tersentak menerima hunjaman kontolku yang begitu tiba-tiba.Nikmat sekali memek Risa. Meskipun sama-sama becek dan mampu berdenyut, aku merasakan sensasi lain dibandingkan memek Lisa. Makin lama makin terasa memek Risa berdenyut-denyut.
Tak ada suara yang keluar dari bibir Risa, kecuali erangan dan rintihan. Kurasakan otot disekitar pantat dan selangkangannya mengejang dan tiba-tiba Risa menekan pantatku sambil melolong….
“OOOOUUUWWWWWW….ALVVIINNNN…..UUUUUUHHHHHH…..”Nafas Risa tertahan, dan kupercepat hunjaman kontolku, seolah menyerbu memek Risa bertubi-tubi.
Ahh…..betapa hangat lendir birahi yang mengalir, bahkan sampai meleleh membasahi pahaku dan paha Risa. Risa tetap menggoyang-goyangkan pantatnya, sehingga membuatku makin bernafsu menggocok kontolku dalam memeknya yang becek namun sempit.
“Ayoo sayyannngg…keluariinn di mulutt aakkuu….,”Rika menoleh dan menatapku dengan mata sayu seolah memohon agar kusemprotkan spermaku dimulutnya.
“Ohhhhh….aaaawwwgghhh….Risaaaaa…memek kamu ennnnaaakk bangethhh sssssiiiccchhh….,
”aku menceracau sambil terus memaju mundurkan pantatku “aakkk…..kkkuuuu….pengennnnhhhh….keeellluarrr......aaarrrrggghhh….RIIISSAAAAAAAAAA……,”aku berteriak keras sambil mencabut kontolku.
Risa pun meraih kontolku, mengocoknya sambil mengisap kepala dan batangnya. “ayoo sayaanngg.....keluarin spermamu….Aku pengen ngerasain sperma kamu….”Lisa pun tak tinggal diam. Ia berbaring telentang dibawahku dan menjilat bijiku, seolah tau bahwa itu adalah daerah sensitifku. Ya, aku paling gak tahan kalo bijiku dijilat.AAAARRRGGGHHHH….LISAAAAAA….gila kamu….aaarrrghhhh…..nnnniiikk…mattt..bangetttt…..”
“Aku gak tahan, Risaaa…Lisaaa….sayangku cintaku…..”Dan…..crrroooooottt….crroooootttt…..“Haeeppphh…eeelllppphhhhh….hhhmmmppphhhhh…..”suara dari mulut Risa.
Tampak dia gelagapan menerima semburan spermaku, tak kurang dari 5semburan kencang dan banyak…
“Aaaahhh…..ooouuffhh….auuww…ooouuww…udah Ris…udah…udah…jangan diisep teruss…gelllliiii…..”aku meringis kegelian karena Risa tetep mengisap kontolku, seolah tak rela kalo spermaku tak keluar tuntas. Seolah ingin menikmati spermaku hingga tetes terakhir.
“Hmmm…udah puas kamu Ris?” tanya Lisa
“Ahh…gila juga si Alvin ya…kontol panjang dan nikmat banget”sahut Risa.
Setelah membersihkan diri tak lama Lisa dan Risa pamit
“Ok Vin…aku pamit dulu ya…,”Risa pamit sambil mengecup bibirku.
“Daaa, sayang…”“Mmmuuaachh…,” Lisa juga berpamitan. “Salam buat Intan ya…tapi jangan bilang lho, kalo kamu habis bagi-bagi spermamu…xixixi..” Risa dan Lisa cekikikan sambil berjalan keluar.
“Ok, sayang…thanks ya…”sahutku sambil melambaikan tangan dan mengantar mereka ke pagar.
Ah, betapa bahagianya aku, ternyata dua sahabat istriku tak keberatan olah sex denganku, yang selama ini hanya khayalanku, kini telah menjadi kenyataan. Thanks buat Risa dan Lisa…kuharap kalian gak bosen, karena akupun tak akan pernah bosan menikmati tubuhmu. AGEN POKER TERPERCAYA

Comments
Post a Comment