Melayani Sampe Puas Ibu Kost Yang Haus Sex
Waktu itu Di kamar kost aku berbaring sambil ngelamun. Diluar gerimis yang turun sejak sore belum juga usai sehingga menambah dinginnya udara malam, dikota yang memang berhawa sejuk. Malam minggu tanpa pacar dan hujan pula membuat Ferdi suntuk. Dicobanya memejamkan matanya membayangkan sesuatu. Yang muncul adalah seraut wajah cantik berkerudung. Teh Susan, ibu kostnya (aku sering memanggil ibu kostku itu dengan sebutan teteh).
Dibayangkannya wanita itu tersenyum manis sambil membuka kerudungnya, mengeraikan rambutnya yang hitam panjang. Membuka satu persatu kancing bajunya. Memperlihatkan kulit putih mulus dan sepasang buah dada montok yang disangga BH merah jambu. Tinggallah secarik celana dalam, yang sewarna BH, membungkus pinggul montok. Bagaikan penari strip-tease, secarik kain kecil itu segera pula ditanggalkan. Menampakkan selangkangannya yang membusung dihiasi bulu menghitam, kontras dengan kulitnya yang putih mulus. AGEN POKER TERPERCAYA
Ferdi bangkit berdiri sambil menggaruk batang kontol di selangkangnnya yang mulai tegak dan keluar dari kamarnya menuju dapur untuk membuat kopi. Setelah membuat kopi kemudian keruang duduk untuk nonton TV tempat ia kost. Baru sekitar 3 bulan ia kost dirumah keluarga Pak Tedi setelah dia pindah dari tempat kostnya yang lama. Pak Tedi telah beristri dengan anak satu berumur 7 tahun.
Ternyata ruang duduk itu sepi, TV nya juga mati. Mungkin Teh Susan sudah tidur bersama anaknya karena Pak Tedi sedang ke Jakarta menemani ibunya yang akan sedang sakit. Akhirnya Ferdi duduk sendiri dan mulai meghidupkan TV. Ternyata hampir semua saluran TV yang ada gambarnya kurang bagus. Ferdi mencoba semua saluran dan cuma 1 saja yang agak terlihat gambarnya meski agak berbintik.
Tiba-tiba Ferdi mendengar pintu kamar dibuka. Dan dari kamar keluarlah perempuan yang biasa dipanggil Teh Susan. Ferdi kaget melihat kehadiran perempuan itu yang tiba-tiba.
“Eh, Teteh belum tidur? Keberisikan ya?” tanya Ferdi tergagap
“Ah, tidak apa-apa. Saya belum tidur kok” jawab perempuan itu dengan logat Sunda yang kental.
Sehari-hari Susan, seperti kebanyakan ibu rumah tangga di kota ini, selalu berkerudung rapat. Sehingga hanya wajahnya saja yang terlihat. Dengan berkerudung justru semakin menonjolkan kecantikan wajah yang dimilikinya. Dengan alismatanya yang tebal terpadu dengan matanya yang bening indah, hidungnya mancung bangir dan bibirnya yang merah merekah. Pikiran nakalnya adalah apa yang ada dibalik baju yang tertutup itu.
Tapi pikiran itu dibuangnya ketika bertemu dengan suaminya yang terlihat berwibawa dan berusia agak lebih tua dari Susan yang masih dibawah 30 tahun. Pikiran kotornya segera dibuang jauh, karena ia segan pada Pak Tedi.
Tapi malam ini Susan berpenampilan lain, tanpa kerudung. Rambutnya yang tak pernah terlihat, dibiarkan terurai. Demikian juga dengan bajunya, Susan memakai daster diatas lutut yang sekilas cukup menerawang dan hanya dilapisi oleh kimono panjang yang tidak dikancing. Sehingga dimata Ferdi, Susan seperti bidadari yang turun dari khayangan. Cantik dan mempesona. Mungkin begitulah pakaiannya kalau tidur.
“Gambar tvnya jelek ya?” tanya Susan mengagetkan Ferdi.
“Eh, iya. Antenanya kali” jawab Ferdi sambil menunduk.
Ferdi semakin berdebar ketika perempuan itu duduk disebelahnya sambil meraih remote control. Tercium bau harum dari tubuhnya membuat hidung Ferdi kembang kempis. Lutut dan sebagian pahanya yang putih terlihat jelas menyembul dari balik dasternya. Ferdi menelan ludah.
“Semuanya jelek”, kata Susan, “Nonton VCD saja ya?”.
“Terserah Teteh” kata Ferdi masih berdebar menghadapi situasi itu.
“Tapi adanya film unyil, nggak apa?” kata Susan sambil tersenyum menggoda.
Ferdi faham maksud Susan tapi tidak yakin film yang dimaksud adalah film porno.
“Ya terserah Teteh saja” jawab Ferdi.
Susan kemudian bangkit dan menuju kamar anaknya. Ferdi semakin berdebar, dirapikan kain sarungnya dan disadari dibalik sarung itu ia cuma pakai celana dalam. Diteguknya air digelas. Agak lama Susan keluar dari kamar dengan membawa kantung plastik hitam.
“Mau nonton yang mana?” tanyanya menyodorkan beberapa keping VCD sambil duduk kembali di samping Ferdi.
Ferdi menerimanya dan benar dugaannya itu VCD porno.
“Eh, ah yang mana sajalah” kata Ferdi belum bisa menenangkan diri dan menyerahkan kembali VCD-VCD itu.
“Yang ini saja, ada ceritanya” kata Susan mengambil salah satu dan menuju alat pemutar dekat TV.
Ferdi mencoba menenangkan diri.
“Memang Teteh suka nonton yang beginian ya?” tanya Ferdi memancing
“Ya kadang-kadang, kalau lagi suntuk” jawab Susan sambil tertawa kecil
“Bapak juga?” tanya Ferdi lagi
“Ngga lah, marah dia kalau tahu” kata Susan kembali duduk setelah memencet tombol player.
Memang selama ini Susan menonton film-film itu secara sembunyi-sembunyi dari suaminya yang keras dalam urusan moral.
“Bapak kan orangnya kolot” lanjut Susan “dalam berhubungan suami-istri juga ngga ada variasinya. Bosen!”
Film sudah mulai, sepasang perempuan dan lelaki terlihat mengobrol mesra. Tapi Ferdi tidak terlalu memperhatikan. Matanya justru melirik perempuan disebelahnya. Susan duduk sambil mengangkat satu kakinya keatas kursi dengan tangannya ditumpangkan dilututnya yang terlipat, sehingga pahanya yang mulus makin terbuka lebar. Ferdi sudah tidak ragu lagi.
“Teteh kesepian ya?” Tanya Ferdi sambil menatap perempuan itu, Susan balik menatap Ferdi dengan pandangan berbinar dan mengangguk perlahan.
“Kamu mau tolong saya?” tanya Susan sambil memegang tangan Ferdi.
“Bagaimana dengan Bapak ?” tanya Ferdi ragu-ragu tapi tahu maksud perempuan ini.
“Jangan sampai Bapak tahu” kata Susan. “Itu bisa diatur” lanjut Susan sambil mulai merapatkan tubuhnya.
Ferdi tak mau lagi berpikir, segera direngkuhnya tubuh perempuan itu. Wajah mereka kini saling berhadapan, terlihat hasrat yang bergelora dimata Susan. Dan bibirnya yang merah merekah basah mengundang untuk di kecup. Tanpa menunggu lagi bibir Ferdi segera melumat bibir yang sudah merekah pasrah itu. Ferdi semakin yakin bahwa perempuan ini haus akan sentuhan lelaki ketika dirasakan ciumannya dibalas dengan penuh nafsu oleh Susan.
Tangan Susan memegang belakang kepala Ferdi menekannya agar ciuman mereka itu semakin lekat melumat. Ferdi mengimbangi ciuman itu dengan penuh gairah sambil mencoba merangsang perempuan itu lebih jauh, tangannya mulai merabai tubuh hangat Susan. Dirabanya paha mulus yang sedari tadi menarik perhatiannya, diusapnya perlahan mulai dari lutut yang halus lembut terus keatas menyusup kebalik dasternya.
Susan bergetar ketika jemari Ferdi menyentuh semakin dekat daerah pangkal pahanya. Tangan Ferdi memang mulai merambah seputar selangkangan perempuan itu yang masih terbungkus celana dalam. Dengan ujung jarinya diusap-usap selangkangan itu yang makin terbuka karena Susan telah merenggangkan kedua pahanya. Dan rupanya Susan telah semakin larut hasratnya dan ingin merasakan rabaan yang langsung pada selangkangannya. Dengan sigap tanpa malu-malu ditariknya celana dalam itu, dibantu oleh Ferdi dengan senang hati, sehingga terbuka poloslah lembah yang menyimpan lubang kenikmatan itu. Segera saja tangan Ferdi merambahi ke lembah hangat milik Susan yang telah terbuka itu.
Susan makin mendesah ketika jemari Ferdi mulai menyentuh bibir memeknya. Itulah sentuhan mesra pertama dari jemari lelaki yang pernah Susan rasakan pada daerah kemaluannya. Suaminya tidak pernah mau melakukan hal itu. Dalam bercinta suaminya tidak pernah melakukan pemanasan atau rabaan yang cukup untuk merangsangnya.
Selama hampir 8 tahun menikah, Susan belum pernah merasakan nikmatnya bercinta secara sesungguhnya. Semuanya dikendalikan dan diatur oleh suaminya. Berapa hari sekali harus bercinta, cara apa yang dipakai, dan sebagainya. Tedi suaminya yang berusia hampir 40 tahun ternyata lelaki yang ortodok dan tidak pernah memperhatikan keinginan istrinya. Apalagi ia menderita ejakulasi prematur. Sehingga sudah jarang frekuensinya, cepat pula keluarnya. Sehingga selama bertahun-tahun, Susan tidak lebih dari benda yang mati yang punya lubang buat membuang airmani suaminya.
“Ah..terus Fer..” desahnya membara.
Ferdi mengeluarkan semua kemampuannya, demikian juga dengan Susan mencoba melepaskan hasrat yang dipendamnya selama ini.
Malam ini Susan tidak perduli lagi dengan dosa apalagi suaminya. Ia ingin hasratnya terlampiaskan. Mereka berciuman kembali dengan sangat bernafsu. Mulut mereka sudah saling lepas, dan mulut Ferdi mulai menyusuri leher jenjang Susan yang selama ini tertutup rapat. Mulut Ferdi menciumi leher jenjang yang lembut itu beberapa saat terus kebawah sepertinya hendak kedaerah belahan dada Susan, tapi tiba-tiba Ferdi bergeser dari duduknya dan bersimpuh di lantai sehingga mukanya berada diantara paha Susan yang mengangkang dimana bibir memeknya sedang dirabai jemari pemuda itu. Rupanya Ferdi ingin memberikan rangsangan yang lebih lagi dan rupanya Susan juga faham maksud Ferdi.
Dengan berdebar dan antusias ditunggunya aksi Ferdi lebih lanjut terhadap selangkangannya dengan lebih lebar lagi mengangkangkan kedua kakinya. Susan menunduk memperhatikan kepala Ferdi dicondongkan kedepan dan mulutnya mulai mendekati selangkangannya yang terbuka. Dilihatnya TV yang juga sedang menayangkan gambar yang tidak kurang hot.
Dijulurkan lidahnya menyentuh belahan kemerahan yang sudah terkuak itu. Tercium wangi harum dari lembah itu.Kedua tangan Ferdi bergeser mendekati lubang memek itu untuk lebih menguakkannya
“Ahhh.!” Susan mendesah dan pinggulnya bergetar ketika ujung lidah itu menyentuh bibir memeknya.
Desahannya semakin menjadi ketika lidah Ferdi mulai menjilati bibir yang merekah basah itu dan dengan ujung lidahnya mengelitik itilnya yang tersembunyi dibelahannya. Dan itu semakin membuat Susan blingsatan merasakan nikmat yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Pinggulnya dihentak-hentakkan keatas menikmati sentuhan yang belum pernah dirasakan yang telah lama dihayalkan. Ferdi terus melakukan jilatan yang nikmat itu dan tangannya yang satu mulai merambah keatas meremasi buah dada yang montok padat. Rupanya Susan sudah merasa semakin panas meskipun diluar hujan masih turun. Segera dibuka kimono dan dasternya, juga BH yang membungkus sepasang bukit kembar, sehingga perempuan yang sehari-hari selalu berbaju tertutup dan terlihat alim ini kini duduk telanjang bulat disofa.
Mata Susan merem melek menikmati jilatan lidah dan rabaan tangan Ferdi. Hasrat yang telah lama dihayalkan kini mulai terwujud. Ia bertekad untuk mewujudkan dan melaksanakan semua hayalan yang selama ini disimpannya. Banyak hayalan gila-gilaan yang pernah di rekanya, hasil dari pengamatannya menonton film-film porno.
Demikian juga dengan Ferdi, impiannya kini tercapai. Bukan hanya melihat perempuan berkerudung telanjang tapi juga bisa merabai tubuhnya bahkan mungkin sebentar lagi bercinta dengannya. Jilatan dan rabaan Ferdi rupanya telah menaikkan nafsu Susan makin tinggi hingga akhirnya dirasakan hasrat itu semakin memuncak. Susan yang belum pernah merasakan orgasme selama berhubungan dengan suaminya, tapi ia tahu akan segera orgasme. Dengan ganas di tariknyanya kepala Ferdi agar makin rapat keselangkangannya sambil menggerakkan pinggulnya naik turun, sehingga bukan hanya mulut Ferdi yang mengesek memeknya tapi juga hidung dan dagu pemuda itu.
“Ahhhduh..AAaaaHhhh….! Ahhh!!” jeritnya tertahan ketika akhirnya orgasme itu datang juga.
Ferdi sempat tidak bisa bernafas ketika mukanya dibenamkan rapat keselangkangan itu ditambah Susan merapatkan kedua pahanya menjepit kepalanya. Beberapa saat Susan menyenderkan kepalanya disandaran sofa dengan mata terpejam menikmati untuk pertama kali klimaks karena dicumbu lelaki, nafas memburu dan perlahan kedua kakinya yang menjepit kepala Ferdi kembali membuka sehingga Ferdi dapat melepaskan diri. Muka Ferdi basah bukan hanya oleh keringat tapi juga oleh cairan yang keluar dari lubang kenikmatan Susan.
Ferdi bangkit berdiri sambil membuka kausnya yang digunakan untuk mengelap mukanya. Tubuhnya berkeringat. Dipandangi perempuan telanjang itu yang duduk mengangkang. Baru ini dapat diamati tubuh telanjang perempuan itu secara utuh.
“Makasi ya Fer” kata Susan berterima kasih sambil membuka matanya ke Ferdi meresapi kenikmatan yang baru diraihnya.
Kemudian Ferdi mundur dua langkah mengamati tubuh telanjang perempuan itu lebih seksama. Pemandangan itu semakin memperkeras acungan batang kontol Ferdi. Dan Susan yang sudah terpesona dengan benda itu dari tadi segera meraih dan mengenggamnya. Susan kembali duduk sambil tetap menggengam batang kontol itu. Ferdi mengikuti dan tahu maksudnya. Ternyata perempuan ini penuh dengan fantasi yang hebat, pikirnya. Dengan mata berbinar diperhatikan batang kontol yang tegang dihadapannya. Kontol yang jauh lebih besar dan panjang dari punya suaminya.
Telah lama Susan ingin merasakan mengulum kontol lelaki seperti yang dilihatnya difilm porno.
Kini ia punya kesempatan untuk mewujudkannya. Tak ada lagi rasa malu atau jijik. Telah dilepaskan semua atribut sebagai istri yang patuh dan saleh. Yang ada didalam benaknya adalah menuntaskan hasratnya. Ferdi yang batang kontolnya dikulum sedemikian rupa semakin terangsang tinggi. Kuluman mulut Susan meskipun baru untuk pertama kali melakukannya tapi cukup membuatnya mengelinjang nikmat. Sangat lain sensasinya. Hingga akhirnya.
“Ah Teh, sudah mau keluar nih” desis Ferdi mengingatkan sambil mencoba menarik pinggulnya.
Tapi Susan yang memang mau merasakan semburan mani dimulutnya malah semakin menggiatkan kulumannya. Hingga akhirnya tanpa bisa ditahan lagi, batang kontol itu menumpahkan cairan kenikmatan didalam mulut Susan. Ferdi meregang, dengkulnya terasa goyah. Dan Susan semakin menguatkan kuluman bibirnya di kontol itu. Dirasakannya cairan hangat menyemprot didalam mulutnya, rasanya aneh sedikit tapi gurih. Enak menurutnya. Tanpa ragu Susan semakin keras mengocok batang kontol itu dan dengan lahap ditelannya cairan yang muncrat dari lubang kontol Ferdi, bahkan sampai tetes terakhir dengan menghisap batang kontol itu. Tanpa rasa jijik atau mual.
“Bagai mana rasanya Teh?” tanya Ferdi. Ia kagum ada perempuan yang mau menelan air maninya dengan antusias.
“Enak, gurih” kata Susan tanpa ragu. Keduanya duduk diatas sofa mengatur nafas. Kemudian Susan bangkit.
“Sebentar ya, saya buatkan minuman buat kamu” katanya sambil kedapur dengan hanya mengenakan kimono.
Ferdi sambil telanjang mengikuti dari belakang dan ke kamar mandi membersihkan batang kontolnya sambil kencing. Setelah itu didapatinya Susan di dapur membuatkan minuman.
Ferdi mendekati dari belakang dan mendekapnya sambil tangannya meremas sepasang bukit kembar yang menggantung bebas. Susan menggelinjang merasakan remasan di dadanya. Apalagi ketika lehernya diciumi Ferdi. Perlahan dirasakan batang kontol Ferdi mulai bangkit lagi mengganjal dipantatnya. Susansemakin mengelinjang ketika tangan Ferdi yang satunya mulai merambahi selangkangannya.
“Sudah nggak sabar ya” katanya sambil ketawa dan berbalik. Kembali keduanya berciuman dengan rakus.
“Dikamar saja ya” ajak Susan ketika ciuman mereka semakin larut. Mereka masuk kekamar yang biasanya untuk tamu.
Disana ada tempat tidur besar dengan kasur empuk.
Susan mendorong tubuh Ferdi keranjang dan jatuh celentang. Susan juga segera menjatuhkan tubuhnya di ranjang menyusul Ferdi. Keduanya kembali berciuman dengan buas. Tapi tidak lama karena Susan mendorong kepala Ferdi kebawah. Ia ingin Ferdi mengerjai buah dadanya. Ferdi menurut karena ia pun sudah ingin merasakan lembutnya sepasang bukit kembar yang montok berisi itu. Susan mendesah sambil mengerumus rambut Ferdi yang mulai menjilati dan menghisapi salah satu pentil buah dadanya. Sedangkan yang satunya diremasi tangan Ferdi dengan lembut. Ferdi merasakan buah dada yang lembut dan perlahan terasa semakin menegang dengan puting yang mengeras.
“Oh Fan! Geliin..terus akh!” Tangan Ferdi yang satunya mulai merambahi kembali selangkangan perempuan itu.
Susan menyambutnya dengan merenggangkan kedua kakinya.
“Ahh..terus sayang!” desisnya ketika jemari pemuda itu mulai menyentuh kemaluannya.
Jemari Ferdi dengan perlahan menyusuri lembah berbulu dimana didalamnya terdapat bibir lembut yang lembab. Beberapa lama kemudian Ferdi mengambil inisiatif setelah puas merambahi sepasang bukit ranum itu, perlahan mulutnya mulai bergerak kebawah menyusuri perut mulus Susan dan berhenti di pusarnya.
Susan menggelinjang ketika pusarnya dijilat lidah pemuda itu. Susan rupanya tidak mau nganggur sendiri. Ditariknya pinggul Ferdi kearah kepalanya. Ferdi faham maksudnya. Dengan segera dikangkangi kepala Susan diantara kedua pahanya dan menempatkan pangkal pahanya dengan batang kontol yang menegang keras diatas muka Susan. Yang segera disambut kuluman Susan dengan bernafsu. Ferdi juga sudah menempatkan kepalanya diantara paha Susan yang mengangkang. Mulutnya mulai merambahi kembali lembah harum berjembut lebat itu. Keduanya melakukan tugas dengan nafsu yang semakin tinggi dan terus berusaha merangsang pasangan masing-masing.
“Ooohhh! Fer, lakukanlah” desah Susan mulai tak tahan menahan hasratnya. Ferdi segera menghentikan jilatannya dan mengatur posisi. Susan celentang pasrah dengan kedua paha terbuka lebar menantikan hujaman batang kontol Ferdi pada lubang memeknya yang telah semakin berdenyut.
Dadanya berdebar kencang, mengingatkannya pada malam pertama ketika untuk pertama kali diperawani suaminya. Usianya belum lagi 22 tahun waktu itu. Tak ada kemesraaan dan kenikmatan, yang ada hanya kesakitan ketika batang kontol Tedi merobek lubang kemaluannya. Untung cuma berlangsung sebentar karena suaminya cepat keluar air maninya.
Susan tersentak dari mimpi buruknya ketika terasa benda hangat menyentuh bibir memeknya. Direngkuhnya tubuh Ferdi ketika perlahan batang kontol yang keras itu mulai menyusuri lubang memeknya.
“Akh! enak Fer!” desahnya. Tangannya menekan pinggul Ferdi agar batang kontol pemuda itu masuk seluruhnya.
Ferdi juga merasakan nikmat. Memek Susan terasa sempit dan seret. Ferdi mulai menggerakkan pinggulnya perlahan naik-turun dan terus dipercepat diimbangi gerakan pinggul Susan. Keduanya terus berpacu menggapai nikmat.
“Ayo Fer geyol terusss!” desah Susan makin hilang kendali merasakan nikmat yang baru kali ini dirasakan. Ferdi mengerakkan pinggulnya semakin cepat dan keras. Sesekali disentakkan kedepan sehingga batang kontolnya tuntas masuk seluruhnya kedalam memek Susan.
“Oh..Fer !”jerit Susan nikmat setiap kali Ferdi melakukannya.Terasa batang kontol itu menyodok dasar lubang memeknya yang terdalam.
Semakin sering Ferdi melakukannya, semakin bertambah nikmat yang dirasakan Susan sehingga pada hentakan yang sekian Susan merasakan otot diseluruh tubuhnya meregang. Dengan tangannya ditekan pantat Ferdi agar hujaman bantang kontol itu semakin dalam. Dan terasa ada yang berdenyut-denyut didalam lubang memeknya.
“Ahk..! Ahduh akhh!” teriaknya tertahan merasakan orgasme yang untuk pertama kali saat bersanggama dengan lelaki.
Ferdi yang belum keluar terus menggerakkan pinggulnya semakin cepat. Menyebabkan Susan kembali berusaha mengimbangi.
Diangkat kedua kakinya keatas dan dipegang dengan kedua tangannya, sehingga pinggulnya sedikit terangkat sehingga memeknya semakin menjengkit. Menyebabkan hujaman kontol Ferdi semakin dalam. Ferdi yang berusaha mencapai kenikmatannya, merasa lebih nikmat dengan posisi Susan seperti itu. Demikian juga dengan Susan, perlahan kenikmatan puncak yang belum turun benar naik lagi.Susan mengangkat dan menumpangkan kakinya dipundak Ferdi, sehingga selangkangannya lebih terangkat.
Ferdi memeluk kedua kaki Susan, sehingga tubuhnya setengah berdiri. Dirasakan jepitan memek Susan lebih terasa sehingga gesekan batang kontolnya menjadi semakin nikmat. Ferdi semakin menghentakkan pinggulnya ketika dirasakan kenikmatan puncak sudah semakin dekat dirasakan.
“Ahhh” Ferdi mendesah nikmat ketika dari batang kontolnya menyembur cairan kenikmatannya.
Dikocoknya terus batang kontol itu untuk menuntaskan hasratnya. Bersamaan dengan itu Susan rupanya juga merasakan kenikmatan yang kedua kalinya.
“Akhh!!” jeritnya untuk kedua kali merasakan orgasme berturut-turut.
Tubuh Ferdi ambruk diatas tubuh Susan. Keduanya saling berdekapan. Kemaluan mereka masih bertaut. Keringat mengucur dari tubuh keduanya, bersatu. Nafas saling memburu.
“Makasih ya Fer, makasih” kata Susan terbata mengucapkan terima kasih diantara nafasnya yang memburu.
Tuntas sudah hasratnya. Dua tubuh yang panas berkeringat terus berdekapan mengatasi dinginnya malam.
Tak sampai 15 menit mereka saling berdekapan ketika dirasakan Ferdi, batang kontolnya yang telah lepas dari lubang memek Susan mulai dirabai dan diremas kembali oleh tangan Susan. Rupanya perempuan ini sudah ingin lagi. Ferdi tersenyum dalam hati, lembur nih ini malam! Memang Susan sudah bangkit lagi hasratnya. Nafsunya yang lama terpendam seakan-akan segera muncul kembali meskipun baru terpenuhi. Sepertinya ia tidak ingin melepaskan kesempatan malam ini untuk bercinta sebanyak mungkin dengan Ferdi sampai besok pagi, dengan berbagai teknik dan posisi yang selama ini cuma diangankannya.
Dan malam itu mereka melewati malam panjang dengan penuh keringat, cumbuan, rabaan, hentakan nafas dan desahan nikmat berkali-kali sampai pagi. AGEN POKER TERPERCAYA
Dibayangkannya wanita itu tersenyum manis sambil membuka kerudungnya, mengeraikan rambutnya yang hitam panjang. Membuka satu persatu kancing bajunya. Memperlihatkan kulit putih mulus dan sepasang buah dada montok yang disangga BH merah jambu. Tinggallah secarik celana dalam, yang sewarna BH, membungkus pinggul montok. Bagaikan penari strip-tease, secarik kain kecil itu segera pula ditanggalkan. Menampakkan selangkangannya yang membusung dihiasi bulu menghitam, kontras dengan kulitnya yang putih mulus. AGEN POKER TERPERCAYA
Ferdi bangkit berdiri sambil menggaruk batang kontol di selangkangnnya yang mulai tegak dan keluar dari kamarnya menuju dapur untuk membuat kopi. Setelah membuat kopi kemudian keruang duduk untuk nonton TV tempat ia kost. Baru sekitar 3 bulan ia kost dirumah keluarga Pak Tedi setelah dia pindah dari tempat kostnya yang lama. Pak Tedi telah beristri dengan anak satu berumur 7 tahun.
Ternyata ruang duduk itu sepi, TV nya juga mati. Mungkin Teh Susan sudah tidur bersama anaknya karena Pak Tedi sedang ke Jakarta menemani ibunya yang akan sedang sakit. Akhirnya Ferdi duduk sendiri dan mulai meghidupkan TV. Ternyata hampir semua saluran TV yang ada gambarnya kurang bagus. Ferdi mencoba semua saluran dan cuma 1 saja yang agak terlihat gambarnya meski agak berbintik.
Tiba-tiba Ferdi mendengar pintu kamar dibuka. Dan dari kamar keluarlah perempuan yang biasa dipanggil Teh Susan. Ferdi kaget melihat kehadiran perempuan itu yang tiba-tiba.
“Eh, Teteh belum tidur? Keberisikan ya?” tanya Ferdi tergagap
“Ah, tidak apa-apa. Saya belum tidur kok” jawab perempuan itu dengan logat Sunda yang kental.
Sehari-hari Susan, seperti kebanyakan ibu rumah tangga di kota ini, selalu berkerudung rapat. Sehingga hanya wajahnya saja yang terlihat. Dengan berkerudung justru semakin menonjolkan kecantikan wajah yang dimilikinya. Dengan alismatanya yang tebal terpadu dengan matanya yang bening indah, hidungnya mancung bangir dan bibirnya yang merah merekah. Pikiran nakalnya adalah apa yang ada dibalik baju yang tertutup itu.
Tapi pikiran itu dibuangnya ketika bertemu dengan suaminya yang terlihat berwibawa dan berusia agak lebih tua dari Susan yang masih dibawah 30 tahun. Pikiran kotornya segera dibuang jauh, karena ia segan pada Pak Tedi.
Tapi malam ini Susan berpenampilan lain, tanpa kerudung. Rambutnya yang tak pernah terlihat, dibiarkan terurai. Demikian juga dengan bajunya, Susan memakai daster diatas lutut yang sekilas cukup menerawang dan hanya dilapisi oleh kimono panjang yang tidak dikancing. Sehingga dimata Ferdi, Susan seperti bidadari yang turun dari khayangan. Cantik dan mempesona. Mungkin begitulah pakaiannya kalau tidur.
“Gambar tvnya jelek ya?” tanya Susan mengagetkan Ferdi.
“Eh, iya. Antenanya kali” jawab Ferdi sambil menunduk.
Ferdi semakin berdebar ketika perempuan itu duduk disebelahnya sambil meraih remote control. Tercium bau harum dari tubuhnya membuat hidung Ferdi kembang kempis. Lutut dan sebagian pahanya yang putih terlihat jelas menyembul dari balik dasternya. Ferdi menelan ludah.
“Semuanya jelek”, kata Susan, “Nonton VCD saja ya?”.
“Terserah Teteh” kata Ferdi masih berdebar menghadapi situasi itu.
“Tapi adanya film unyil, nggak apa?” kata Susan sambil tersenyum menggoda.
Ferdi faham maksud Susan tapi tidak yakin film yang dimaksud adalah film porno.
“Ya terserah Teteh saja” jawab Ferdi.
Susan kemudian bangkit dan menuju kamar anaknya. Ferdi semakin berdebar, dirapikan kain sarungnya dan disadari dibalik sarung itu ia cuma pakai celana dalam. Diteguknya air digelas. Agak lama Susan keluar dari kamar dengan membawa kantung plastik hitam.
“Mau nonton yang mana?” tanyanya menyodorkan beberapa keping VCD sambil duduk kembali di samping Ferdi.
Ferdi menerimanya dan benar dugaannya itu VCD porno.
“Eh, ah yang mana sajalah” kata Ferdi belum bisa menenangkan diri dan menyerahkan kembali VCD-VCD itu.
“Yang ini saja, ada ceritanya” kata Susan mengambil salah satu dan menuju alat pemutar dekat TV.
Ferdi mencoba menenangkan diri.
“Memang Teteh suka nonton yang beginian ya?” tanya Ferdi memancing
“Ya kadang-kadang, kalau lagi suntuk” jawab Susan sambil tertawa kecil
“Bapak juga?” tanya Ferdi lagi
“Ngga lah, marah dia kalau tahu” kata Susan kembali duduk setelah memencet tombol player.
Memang selama ini Susan menonton film-film itu secara sembunyi-sembunyi dari suaminya yang keras dalam urusan moral.
“Bapak kan orangnya kolot” lanjut Susan “dalam berhubungan suami-istri juga ngga ada variasinya. Bosen!”
Film sudah mulai, sepasang perempuan dan lelaki terlihat mengobrol mesra. Tapi Ferdi tidak terlalu memperhatikan. Matanya justru melirik perempuan disebelahnya. Susan duduk sambil mengangkat satu kakinya keatas kursi dengan tangannya ditumpangkan dilututnya yang terlipat, sehingga pahanya yang mulus makin terbuka lebar. Ferdi sudah tidak ragu lagi.
“Teteh kesepian ya?” Tanya Ferdi sambil menatap perempuan itu, Susan balik menatap Ferdi dengan pandangan berbinar dan mengangguk perlahan.
“Kamu mau tolong saya?” tanya Susan sambil memegang tangan Ferdi.
“Bagaimana dengan Bapak ?” tanya Ferdi ragu-ragu tapi tahu maksud perempuan ini.
“Jangan sampai Bapak tahu” kata Susan. “Itu bisa diatur” lanjut Susan sambil mulai merapatkan tubuhnya.
Ferdi tak mau lagi berpikir, segera direngkuhnya tubuh perempuan itu. Wajah mereka kini saling berhadapan, terlihat hasrat yang bergelora dimata Susan. Dan bibirnya yang merah merekah basah mengundang untuk di kecup. Tanpa menunggu lagi bibir Ferdi segera melumat bibir yang sudah merekah pasrah itu. Ferdi semakin yakin bahwa perempuan ini haus akan sentuhan lelaki ketika dirasakan ciumannya dibalas dengan penuh nafsu oleh Susan.
Tangan Susan memegang belakang kepala Ferdi menekannya agar ciuman mereka itu semakin lekat melumat. Ferdi mengimbangi ciuman itu dengan penuh gairah sambil mencoba merangsang perempuan itu lebih jauh, tangannya mulai merabai tubuh hangat Susan. Dirabanya paha mulus yang sedari tadi menarik perhatiannya, diusapnya perlahan mulai dari lutut yang halus lembut terus keatas menyusup kebalik dasternya.
Susan bergetar ketika jemari Ferdi menyentuh semakin dekat daerah pangkal pahanya. Tangan Ferdi memang mulai merambah seputar selangkangan perempuan itu yang masih terbungkus celana dalam. Dengan ujung jarinya diusap-usap selangkangan itu yang makin terbuka karena Susan telah merenggangkan kedua pahanya. Dan rupanya Susan telah semakin larut hasratnya dan ingin merasakan rabaan yang langsung pada selangkangannya. Dengan sigap tanpa malu-malu ditariknya celana dalam itu, dibantu oleh Ferdi dengan senang hati, sehingga terbuka poloslah lembah yang menyimpan lubang kenikmatan itu. Segera saja tangan Ferdi merambahi ke lembah hangat milik Susan yang telah terbuka itu.
Susan makin mendesah ketika jemari Ferdi mulai menyentuh bibir memeknya. Itulah sentuhan mesra pertama dari jemari lelaki yang pernah Susan rasakan pada daerah kemaluannya. Suaminya tidak pernah mau melakukan hal itu. Dalam bercinta suaminya tidak pernah melakukan pemanasan atau rabaan yang cukup untuk merangsangnya.
Selama hampir 8 tahun menikah, Susan belum pernah merasakan nikmatnya bercinta secara sesungguhnya. Semuanya dikendalikan dan diatur oleh suaminya. Berapa hari sekali harus bercinta, cara apa yang dipakai, dan sebagainya. Tedi suaminya yang berusia hampir 40 tahun ternyata lelaki yang ortodok dan tidak pernah memperhatikan keinginan istrinya. Apalagi ia menderita ejakulasi prematur. Sehingga sudah jarang frekuensinya, cepat pula keluarnya. Sehingga selama bertahun-tahun, Susan tidak lebih dari benda yang mati yang punya lubang buat membuang airmani suaminya.
“Ah..terus Fer..” desahnya membara.
Ferdi mengeluarkan semua kemampuannya, demikian juga dengan Susan mencoba melepaskan hasrat yang dipendamnya selama ini.
Malam ini Susan tidak perduli lagi dengan dosa apalagi suaminya. Ia ingin hasratnya terlampiaskan. Mereka berciuman kembali dengan sangat bernafsu. Mulut mereka sudah saling lepas, dan mulut Ferdi mulai menyusuri leher jenjang Susan yang selama ini tertutup rapat. Mulut Ferdi menciumi leher jenjang yang lembut itu beberapa saat terus kebawah sepertinya hendak kedaerah belahan dada Susan, tapi tiba-tiba Ferdi bergeser dari duduknya dan bersimpuh di lantai sehingga mukanya berada diantara paha Susan yang mengangkang dimana bibir memeknya sedang dirabai jemari pemuda itu. Rupanya Ferdi ingin memberikan rangsangan yang lebih lagi dan rupanya Susan juga faham maksud Ferdi.
Dengan berdebar dan antusias ditunggunya aksi Ferdi lebih lanjut terhadap selangkangannya dengan lebih lebar lagi mengangkangkan kedua kakinya. Susan menunduk memperhatikan kepala Ferdi dicondongkan kedepan dan mulutnya mulai mendekati selangkangannya yang terbuka. Dilihatnya TV yang juga sedang menayangkan gambar yang tidak kurang hot.
Dijulurkan lidahnya menyentuh belahan kemerahan yang sudah terkuak itu. Tercium wangi harum dari lembah itu.Kedua tangan Ferdi bergeser mendekati lubang memek itu untuk lebih menguakkannya
“Ahhh.!” Susan mendesah dan pinggulnya bergetar ketika ujung lidah itu menyentuh bibir memeknya.
Desahannya semakin menjadi ketika lidah Ferdi mulai menjilati bibir yang merekah basah itu dan dengan ujung lidahnya mengelitik itilnya yang tersembunyi dibelahannya. Dan itu semakin membuat Susan blingsatan merasakan nikmat yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Pinggulnya dihentak-hentakkan keatas menikmati sentuhan yang belum pernah dirasakan yang telah lama dihayalkan. Ferdi terus melakukan jilatan yang nikmat itu dan tangannya yang satu mulai merambah keatas meremasi buah dada yang montok padat. Rupanya Susan sudah merasa semakin panas meskipun diluar hujan masih turun. Segera dibuka kimono dan dasternya, juga BH yang membungkus sepasang bukit kembar, sehingga perempuan yang sehari-hari selalu berbaju tertutup dan terlihat alim ini kini duduk telanjang bulat disofa.
Mata Susan merem melek menikmati jilatan lidah dan rabaan tangan Ferdi. Hasrat yang telah lama dihayalkan kini mulai terwujud. Ia bertekad untuk mewujudkan dan melaksanakan semua hayalan yang selama ini disimpannya. Banyak hayalan gila-gilaan yang pernah di rekanya, hasil dari pengamatannya menonton film-film porno.
Demikian juga dengan Ferdi, impiannya kini tercapai. Bukan hanya melihat perempuan berkerudung telanjang tapi juga bisa merabai tubuhnya bahkan mungkin sebentar lagi bercinta dengannya. Jilatan dan rabaan Ferdi rupanya telah menaikkan nafsu Susan makin tinggi hingga akhirnya dirasakan hasrat itu semakin memuncak. Susan yang belum pernah merasakan orgasme selama berhubungan dengan suaminya, tapi ia tahu akan segera orgasme. Dengan ganas di tariknyanya kepala Ferdi agar makin rapat keselangkangannya sambil menggerakkan pinggulnya naik turun, sehingga bukan hanya mulut Ferdi yang mengesek memeknya tapi juga hidung dan dagu pemuda itu.
“Ahhhduh..AAaaaHhhh….! Ahhh!!” jeritnya tertahan ketika akhirnya orgasme itu datang juga.
Ferdi sempat tidak bisa bernafas ketika mukanya dibenamkan rapat keselangkangan itu ditambah Susan merapatkan kedua pahanya menjepit kepalanya. Beberapa saat Susan menyenderkan kepalanya disandaran sofa dengan mata terpejam menikmati untuk pertama kali klimaks karena dicumbu lelaki, nafas memburu dan perlahan kedua kakinya yang menjepit kepala Ferdi kembali membuka sehingga Ferdi dapat melepaskan diri. Muka Ferdi basah bukan hanya oleh keringat tapi juga oleh cairan yang keluar dari lubang kenikmatan Susan.
Ferdi bangkit berdiri sambil membuka kausnya yang digunakan untuk mengelap mukanya. Tubuhnya berkeringat. Dipandangi perempuan telanjang itu yang duduk mengangkang. Baru ini dapat diamati tubuh telanjang perempuan itu secara utuh.
“Makasi ya Fer” kata Susan berterima kasih sambil membuka matanya ke Ferdi meresapi kenikmatan yang baru diraihnya.
Kemudian Ferdi mundur dua langkah mengamati tubuh telanjang perempuan itu lebih seksama. Pemandangan itu semakin memperkeras acungan batang kontol Ferdi. Dan Susan yang sudah terpesona dengan benda itu dari tadi segera meraih dan mengenggamnya. Susan kembali duduk sambil tetap menggengam batang kontol itu. Ferdi mengikuti dan tahu maksudnya. Ternyata perempuan ini penuh dengan fantasi yang hebat, pikirnya. Dengan mata berbinar diperhatikan batang kontol yang tegang dihadapannya. Kontol yang jauh lebih besar dan panjang dari punya suaminya.
Telah lama Susan ingin merasakan mengulum kontol lelaki seperti yang dilihatnya difilm porno.
Kini ia punya kesempatan untuk mewujudkannya. Tak ada lagi rasa malu atau jijik. Telah dilepaskan semua atribut sebagai istri yang patuh dan saleh. Yang ada didalam benaknya adalah menuntaskan hasratnya. Ferdi yang batang kontolnya dikulum sedemikian rupa semakin terangsang tinggi. Kuluman mulut Susan meskipun baru untuk pertama kali melakukannya tapi cukup membuatnya mengelinjang nikmat. Sangat lain sensasinya. Hingga akhirnya.
“Ah Teh, sudah mau keluar nih” desis Ferdi mengingatkan sambil mencoba menarik pinggulnya.
Tapi Susan yang memang mau merasakan semburan mani dimulutnya malah semakin menggiatkan kulumannya. Hingga akhirnya tanpa bisa ditahan lagi, batang kontol itu menumpahkan cairan kenikmatan didalam mulut Susan. Ferdi meregang, dengkulnya terasa goyah. Dan Susan semakin menguatkan kuluman bibirnya di kontol itu. Dirasakannya cairan hangat menyemprot didalam mulutnya, rasanya aneh sedikit tapi gurih. Enak menurutnya. Tanpa ragu Susan semakin keras mengocok batang kontol itu dan dengan lahap ditelannya cairan yang muncrat dari lubang kontol Ferdi, bahkan sampai tetes terakhir dengan menghisap batang kontol itu. Tanpa rasa jijik atau mual.
“Bagai mana rasanya Teh?” tanya Ferdi. Ia kagum ada perempuan yang mau menelan air maninya dengan antusias.
“Enak, gurih” kata Susan tanpa ragu. Keduanya duduk diatas sofa mengatur nafas. Kemudian Susan bangkit.
“Sebentar ya, saya buatkan minuman buat kamu” katanya sambil kedapur dengan hanya mengenakan kimono.
Ferdi sambil telanjang mengikuti dari belakang dan ke kamar mandi membersihkan batang kontolnya sambil kencing. Setelah itu didapatinya Susan di dapur membuatkan minuman.
Ferdi mendekati dari belakang dan mendekapnya sambil tangannya meremas sepasang bukit kembar yang menggantung bebas. Susan menggelinjang merasakan remasan di dadanya. Apalagi ketika lehernya diciumi Ferdi. Perlahan dirasakan batang kontol Ferdi mulai bangkit lagi mengganjal dipantatnya. Susansemakin mengelinjang ketika tangan Ferdi yang satunya mulai merambahi selangkangannya.
“Sudah nggak sabar ya” katanya sambil ketawa dan berbalik. Kembali keduanya berciuman dengan rakus.
“Dikamar saja ya” ajak Susan ketika ciuman mereka semakin larut. Mereka masuk kekamar yang biasanya untuk tamu.
Disana ada tempat tidur besar dengan kasur empuk.
Susan mendorong tubuh Ferdi keranjang dan jatuh celentang. Susan juga segera menjatuhkan tubuhnya di ranjang menyusul Ferdi. Keduanya kembali berciuman dengan buas. Tapi tidak lama karena Susan mendorong kepala Ferdi kebawah. Ia ingin Ferdi mengerjai buah dadanya. Ferdi menurut karena ia pun sudah ingin merasakan lembutnya sepasang bukit kembar yang montok berisi itu. Susan mendesah sambil mengerumus rambut Ferdi yang mulai menjilati dan menghisapi salah satu pentil buah dadanya. Sedangkan yang satunya diremasi tangan Ferdi dengan lembut. Ferdi merasakan buah dada yang lembut dan perlahan terasa semakin menegang dengan puting yang mengeras.
“Oh Fan! Geliin..terus akh!” Tangan Ferdi yang satunya mulai merambahi kembali selangkangan perempuan itu.
Susan menyambutnya dengan merenggangkan kedua kakinya.
“Ahh..terus sayang!” desisnya ketika jemari pemuda itu mulai menyentuh kemaluannya.
Jemari Ferdi dengan perlahan menyusuri lembah berbulu dimana didalamnya terdapat bibir lembut yang lembab. Beberapa lama kemudian Ferdi mengambil inisiatif setelah puas merambahi sepasang bukit ranum itu, perlahan mulutnya mulai bergerak kebawah menyusuri perut mulus Susan dan berhenti di pusarnya.
Susan menggelinjang ketika pusarnya dijilat lidah pemuda itu. Susan rupanya tidak mau nganggur sendiri. Ditariknya pinggul Ferdi kearah kepalanya. Ferdi faham maksudnya. Dengan segera dikangkangi kepala Susan diantara kedua pahanya dan menempatkan pangkal pahanya dengan batang kontol yang menegang keras diatas muka Susan. Yang segera disambut kuluman Susan dengan bernafsu. Ferdi juga sudah menempatkan kepalanya diantara paha Susan yang mengangkang. Mulutnya mulai merambahi kembali lembah harum berjembut lebat itu. Keduanya melakukan tugas dengan nafsu yang semakin tinggi dan terus berusaha merangsang pasangan masing-masing.
“Ooohhh! Fer, lakukanlah” desah Susan mulai tak tahan menahan hasratnya. Ferdi segera menghentikan jilatannya dan mengatur posisi. Susan celentang pasrah dengan kedua paha terbuka lebar menantikan hujaman batang kontol Ferdi pada lubang memeknya yang telah semakin berdenyut.
Dadanya berdebar kencang, mengingatkannya pada malam pertama ketika untuk pertama kali diperawani suaminya. Usianya belum lagi 22 tahun waktu itu. Tak ada kemesraaan dan kenikmatan, yang ada hanya kesakitan ketika batang kontol Tedi merobek lubang kemaluannya. Untung cuma berlangsung sebentar karena suaminya cepat keluar air maninya.
Susan tersentak dari mimpi buruknya ketika terasa benda hangat menyentuh bibir memeknya. Direngkuhnya tubuh Ferdi ketika perlahan batang kontol yang keras itu mulai menyusuri lubang memeknya.
“Akh! enak Fer!” desahnya. Tangannya menekan pinggul Ferdi agar batang kontol pemuda itu masuk seluruhnya.
Ferdi juga merasakan nikmat. Memek Susan terasa sempit dan seret. Ferdi mulai menggerakkan pinggulnya perlahan naik-turun dan terus dipercepat diimbangi gerakan pinggul Susan. Keduanya terus berpacu menggapai nikmat.
“Ayo Fer geyol terusss!” desah Susan makin hilang kendali merasakan nikmat yang baru kali ini dirasakan. Ferdi mengerakkan pinggulnya semakin cepat dan keras. Sesekali disentakkan kedepan sehingga batang kontolnya tuntas masuk seluruhnya kedalam memek Susan.
“Oh..Fer !”jerit Susan nikmat setiap kali Ferdi melakukannya.Terasa batang kontol itu menyodok dasar lubang memeknya yang terdalam.
Semakin sering Ferdi melakukannya, semakin bertambah nikmat yang dirasakan Susan sehingga pada hentakan yang sekian Susan merasakan otot diseluruh tubuhnya meregang. Dengan tangannya ditekan pantat Ferdi agar hujaman bantang kontol itu semakin dalam. Dan terasa ada yang berdenyut-denyut didalam lubang memeknya.
“Ahk..! Ahduh akhh!” teriaknya tertahan merasakan orgasme yang untuk pertama kali saat bersanggama dengan lelaki.
Ferdi yang belum keluar terus menggerakkan pinggulnya semakin cepat. Menyebabkan Susan kembali berusaha mengimbangi.
Diangkat kedua kakinya keatas dan dipegang dengan kedua tangannya, sehingga pinggulnya sedikit terangkat sehingga memeknya semakin menjengkit. Menyebabkan hujaman kontol Ferdi semakin dalam. Ferdi yang berusaha mencapai kenikmatannya, merasa lebih nikmat dengan posisi Susan seperti itu. Demikian juga dengan Susan, perlahan kenikmatan puncak yang belum turun benar naik lagi.Susan mengangkat dan menumpangkan kakinya dipundak Ferdi, sehingga selangkangannya lebih terangkat.
Ferdi memeluk kedua kaki Susan, sehingga tubuhnya setengah berdiri. Dirasakan jepitan memek Susan lebih terasa sehingga gesekan batang kontolnya menjadi semakin nikmat. Ferdi semakin menghentakkan pinggulnya ketika dirasakan kenikmatan puncak sudah semakin dekat dirasakan.
“Ahhh” Ferdi mendesah nikmat ketika dari batang kontolnya menyembur cairan kenikmatannya.
Dikocoknya terus batang kontol itu untuk menuntaskan hasratnya. Bersamaan dengan itu Susan rupanya juga merasakan kenikmatan yang kedua kalinya.
“Akhh!!” jeritnya untuk kedua kali merasakan orgasme berturut-turut.
Tubuh Ferdi ambruk diatas tubuh Susan. Keduanya saling berdekapan. Kemaluan mereka masih bertaut. Keringat mengucur dari tubuh keduanya, bersatu. Nafas saling memburu.
“Makasih ya Fer, makasih” kata Susan terbata mengucapkan terima kasih diantara nafasnya yang memburu.
Tuntas sudah hasratnya. Dua tubuh yang panas berkeringat terus berdekapan mengatasi dinginnya malam.
Tak sampai 15 menit mereka saling berdekapan ketika dirasakan Ferdi, batang kontolnya yang telah lepas dari lubang memek Susan mulai dirabai dan diremas kembali oleh tangan Susan. Rupanya perempuan ini sudah ingin lagi. Ferdi tersenyum dalam hati, lembur nih ini malam! Memang Susan sudah bangkit lagi hasratnya. Nafsunya yang lama terpendam seakan-akan segera muncul kembali meskipun baru terpenuhi. Sepertinya ia tidak ingin melepaskan kesempatan malam ini untuk bercinta sebanyak mungkin dengan Ferdi sampai besok pagi, dengan berbagai teknik dan posisi yang selama ini cuma diangankannya.
Dan malam itu mereka melewati malam panjang dengan penuh keringat, cumbuan, rabaan, hentakan nafas dan desahan nikmat berkali-kali sampai pagi. AGEN POKER TERPERCAYA

Bola206
ReplyDeleteParlay Bola
Master Parlay
Parlay Sbobet
Peramal Skor