Ternyata Adik Sahabatku Membuatku Lemas Tak Berdaya

Di siang hari yang terik itu, Nia tergesa-gesa turun dari taksi yang ditumpanginya, Setelah membayar ongkos taksi, Nia buru-buru melangkah mendekati pagar tinggi besar sebuah rumah mewah di bilangan jakarta tersebut dan menekan belnya dengan tidak sabar. Tak butuh waktu lama, seorang wanita paruh baya berjalan tergopoh-gopoh menuju pagar untuk menyambutnya.
“Eh, neng Nia. Bibi kirain siapa.”
“Iya bi, cepetan dong panas nih.”
“Iya iya neng masuk..”
Nia dengan segera melenggang masuk kedalam rumah tanpa ba-bi-bu. Ia mengibas-ngibaskan kerah seragam SMA nya setibanya didalam, berusaha mengusir rasa gerah di tubuhnya. Bi rani pun tak selang lama ikut masuk kedalam dan mengunci pintu.
“Orang-orang belom pada pulang ya?” tanya Nia lagi begitu masuk kedalam rumah “Belom neng, tapi tadi non Cinta udah bilang kok neng Nia mau dateng. Cuman ada mas Toni aja yang udah pulang sejam yang lalu. Paling lagi di kamarnya.
“Oh gitu, yauda deh. Saya ke kamarnya Cinta yah bi. Disana aja ngadem.”
“Iya neng, bibi lanjut masak ya.’

AGEN JUDI POKER ONLINE

Nia dan Cinta sudah bersahabat sejak lama sedari SD dan SMP. Nia kerap bermain ke rumah Cinta. Setibanya ia di kamar Cinta, Nia segera melempar tasnya ke lantai dan menjatuhkan badannya di kasur. Cinta sendiri masih ada les tambahan hingga jam 4 sore sehingga ia belum masih akan pulang hingga beberapa jam kedepan. Dengan kesal, Nina hanya membolak-balik hapenya saja untuk membunuh waktu namun hal tersebut malah membuat ia makin kesal. Akhirnya ia pun bangkit dari kasur dan beranjak keluar dari kamar. Baru saja keluar pintu, matanya tertuju kearah pintu kamar Toni diseberang kamar Cinta yang ternyata sedikit terbuka. Toni sendiri adalah adik Cinta satu-satunya. Saat itu Toni menginjak kelas 3 SMP, namun badannya tinggi besar mungkin karena ia rajin berlatih basket sedari SD. Sambil berjingkat-jingkat Nina menghampiri kamar Toni dan melongok sedikit kedalam diantara celah pintu. Nampak Toni tengah duduk didepan meja komputer membelakangi pintu sembari mengenakan headphone. Nia pun mengendap-endap mendekati Toni yang kala itu hanya mengenakan boxer yang terpaku didepan komputer. Namun ketika ia baru hendak menepuk bahu Toni, Nia tercekat melihat layar komputer Toni. Nia baru tersadar Toni ternyata sedari tadi tengah menonton film porno di komputernya. Saat itulah Nia segera ambil tindakan dan menepuk kedua bahu Toni sambil berteriak kencang. AGEN JUDI POKER ONLINE
“Hayo lagi ngapain!”
Toni nyaris terjengkang kebelakang sangking kagetnya. Headphone nya bahkan ikut terbelit ketika ia terjungkal sangking kagetnya. Dengan cepat Toni mematikan layar komputernya dan berdiri dengan terengah-engah dengan wajah pucat pasi. Nia tertawa tergelak hingga terduduk di kasur Toni.
“K-kak Nia ngapain sih! Ngagetin orang aja!!” Ujar Toni masih sambil terbata-bata.
“Lagian elu sih Ton, nonton bokep serius banget sampe ga sadar gue masuk.” Jawab Nia lagi di sela-sela tawanya.
Toni tampak memerah padam wajahnya, ia hanya bisa berdiri mematung di samping komputer seperti tengah di strap.
“Emang seru banget gitu bokepnya? mana coba gue pengen liat kaya apa.” Ujar Nia lagi sambil beranjak mendekati layar komputer.
“Eh Eh! ngapasin sih kak Nia! u-udah deh keluar aja, gangguin orang aja nih!” sembur Toni sambil berusaha menghalang-halangi Nia.
“Ah berisik lu Ton, mana cepet gue pengen liat. Daripada lo gue aduin ke kakak lo coli di kamar? baru tau rasa lo.” ancam Nia sambil terkekeh.

Toni tak bisa berkutik mendengar ancaman Nia. Wajahnya jadi pucat pasi, namun ia tak berani bergeming di sebelah Nia. Nia dengan santai menghidupkan layar komputer kembali dan memutar video porno tersebut. Di lain pihak Toni kini kian resah sambil terus menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, bercampur antara gelisah dan malu.
“Ih gila lu Ton, nontonin yang dijilat-jilat begini cewenya. Lagi belajar ya lu buat pacar lu?” celoteh Nia asal. Toni yang makin salah tingkah yang justru membuat Nia makin bersemangat untuk mengusilinya.
Toni bergerak cepat menutup pintu kamarnya, takut bila nanti Bi rani ikut memergoki kesialannya. Dalam hati ia berkata jangan sampai berita memalukan ini sampai ke telinga kakak atau bahkan mamanya.
“Duh udah dong kak Nia, please ampun kak..” mohon Toni. Tetapi Nia diam saja sambil terus tersenyum-senyum jahil menatapi layar komputer tak menghiraukannya.
“Ckck.. ga nyangka gue Ton, lo ternyata bejat banget ya. Liatnya sampe yang kencing-kencing gini.. ihhh..” celoteh Nia lagi. Toni makin memerah kupingnya mendengar ocehan Nia.
Dalam hati Nia memuji juga selera Toni. Video yang diputar Toni diam-diam agak membuat Nia hanyut juga. Apalagi rencana Nia berduaan dengan pacarnya hari ini gagal, membuat Nina makin gemas saja melihat adegan porno didepan matanya. Sekilas Nia melirik Toni yang berdiri mematung di sebelahnya. Baru kali ini setelah sekian lama Nia melihat Toni setengah telanjang seperti itu. Melihat perut rata Toni, sekelebat pikiran kotor Nia bergejolak.
“Yaaah.. please kak Nia, jangan bilang kak.” Mohon Toni seraya menarik lengan seragam Nia dengan wajah sangat memelas.
“Oke deh gini, lo ga akan gue bilangin. Tapi sebagai hukumannya… Lo harus coli disini, sekarang. Biar lo kapok. Haha..” ujar Nia jahil.
Toni termangu tidak mempercayai perkataan Nia. Nia berusaha sekuat tenaga tidak tertawa kala ia memperhatikan ekspresi Toni. Dalam hati Nia sedikit berdebar-debar jug menunggu respon Toni.
“Ayo gimana? Mau ngga? kalo ga yaudah.” Ancam Niaa sembari berakting melangkah pergi.
“I-iya kak! tunggu bentar please tunggu..” cegah Toni.

Toni terdiam beberapa saat, dan kemudian ia pun mulai menggapai pinggiran boxernya. Nia memperhatikan pergerakan Toni dengan seksama. Perlahan masih penuh dengan keragu-raguan, Toni memelorotkan boxernya dengan sangat hati-hati. Mata Nia membelalak manakala matanya menangkap perut bawah Tomi yang melengkung berbentuk V. Nia berpikir dalam hati “Gila seksi juga ototnya untuk ukuran anak SMP. Pasti karena ikut-ikutan nge-Gym.”
Toni sempat berhenti sesaat sebelum menurunkan boxernya lebih jauh kebawah. Sebelah tangannya menangkup kontolnya malu-malu sembari tangan sebelahnya lagi memeloroti boxernya sendiri hingga ke dengkul dan kemudian ke mata kaki. Dan kini Toni berdiri tanpa sehelai benangpun tak jauh dari Nia yang duduk dengan santai di depan meja komputer.
Toni dengan sangat perlahan mulai merabai kontolnya sendiri meski masih ditutup sebelah tangannya. Diraba-rabainya sendiri kontolnya yang tak kunjung mengeras.
“Mana kok ga bangun-bangun sih? Malu ya? Haha..” goda Nia lagi. “Pokoknya kalo sampe ga bangun juga, bakal gue aduin ke kakak sama nyokap lo.. “ Ujar Nia mengancam.
Mendengar ancaman Nia otomatis Toni berusaha sekuat tenaga memfokuskan diri. Ditengah-tengah usahanya Toni melihat secercah harapan. Dari posisi dirinya bediri saat itu ia dapat mengintip dengan jelas belahan payudara Nia dari yang duduk lebih rendah tepat di hadapannya. Daging yang mulus dan lembut tertutupi bra hitam itu lumayan membantu ereksi Toni. Nia pun menyadari jika Toni mengintip ke payudaranya.
“Nih udah gausah lihat ngintip-ngintip segala. Baek kan gue? daripada kelamaan. Udah buruan kocok cepet!” hardik Nia. Toni langsung melotot matanya melihat payudara yang begitu bulat, terjuntai secara cuma-cuma didepan matanya. Otomatis kontol Toni menegang maksimal disuguhi pemandangan sebegitu indah. Nia pun ikut terbelalak melihat tegangnya kontol Toni. Untuk ukuran anak smp kontol Toni bisa menyamai milik Rendi kekasihnya. Bahkan terlihat lebih melengkung keatas dan lebih besar dari milik Rendi. Tak terbayang apabila SMA nanti atau kuliah bisa sebesar apa kontol Toni. Nia jadi menelan ludah diam-diam.

“Stop stop. Stop dulu. Sekarang lu diem Ton. Gue pengen liat segede apa.”
Toni yang sudah mulai tegangan tinggi terpaksa diam istirahat ditempat karena komando Nia. Dengan posisi itu Nia bisa meneliti betapa gagahnya kontol Toni di depan mukanya itu. Toni pun jadi mengkhayal apabila Nina mengoral kontolnya seperti di film porno. Ahhh.. betapa bahagianya apabila itu terjadi.
“Hmm.. yaudah cepet sekarang kocok lagi!” perintah Nia lagi
Toni pun dengan ogah-ogahan mulai mengocok lagi kontolnya didepan Nia. Agak kecewa juga Toni karena harapannya tadi tidak menjadi kenyataan.
“Pokoknya harus keluar ya. Gue ga mau kalo ga keluar.” Tambah Nia lagi.
“S-susah Kak. A-abisnya gue ga ada bahan lagi..” Kilah Toni malu-malu.
“Heh? Emang ini kurang? Udah bagus-bagus ya lu gue kasi belahan tete. Malah nawar lagi. Dasar lu ya..” Bentak Nia.
“E-eh j-jangan marah gitu dong. Kan kak Nia suruh keluarin. Kalo emang turun lagi Toni bisa lebih cepet” Ujar Toni lagi berusaha membela diri.
“Hm.. Emang lu mau apaan? Awas aja ya kalo gue suruh buka CD juga. Gue ogah. Mending lo gue aduin sekarang ke Cinta.” Balas Nia lagi.
“N-ngga ngga kak , ga itu kok. Hmm.. apa ya.. Buka itu aja deh..” Jawab Toni terbata-bata.
“Buka apaan?” Tanya Nia lagi tidak sabar.
“Turunin bhnya aja kak Nia. Dikit aja, b-biar Toni on lagi.” Tawar Toni malu-malu.
“Oke, fine. Sebelah aja tapi ya. Dan dengan satu syarat. Maksimal 10 menit. Ngga keluar juga, lo gagal.” Ucap Nia menyetujui permintaan Toni.
Nia dengan agak kesal membuka seluruh kancingnya dan menurunkan sebelah tali bhnya. Toni dengan gugup mengintip-intip tak sabar. Nia melirik sedikit kearah Toni, dan dengan perlahan meloloskan tali bhnya, dan mengeluarkan sebelah payudaranya dari balik cupnya. Mata Toni melotot nyaris copot memandangi payudara Nia yang menggantung bebas di udara, serta pucuk payudaranya yang berwarna merah kecoklatan.

Gairah Toni bangkit lagi. Dikocok-kocok lagi kontolnya dengan semangat tanpa disuruh. Nia terkekeh melihat ekspresi wajah Toni yang begitu cabul. Ia tahu apa yang diinginkan Toni. Dengan genit Nia makin mencondongkan sebelah payudaranya yang terpampang menantang Toni. Lalu dengan lembut Nia menjahilin sendiri puting susunya dengan telunjuknya, dan mendesah kecil.
“Aduh.. geliiiii….”
Toni makin kesetanan melihat aksi Nia. Dengan napas menderu ia berbisik ke Nia.
“Terus kak Nia, colek lagi kak.. Cubitin kak…”
Nia tersenyum nakal mendengar permohononan Toni. Dengan perlahan Nia mencubit putingnya yang kenyal dan memuntirnya perlahan sembari seraya mendesah manja.
“Awh, Ton.. uuunnnch…”
Nia menggeliat manja sengaja memancing birahi Toni lebih lagi. Sialnya hari itu memang Nia sedang agak horny, apalagi rencananya untuk bercinta dengan Rendi juga batal. Maka itu rangsangan di putingnya itu dan show Toni didepannya diam-diam malah ikut memancing nafsunya sendiri.
“Ouh kak Nia, seksi banget kak.. Terus kak cubit kak.. Mmhh. enak ya kak?” Pancing Toni.
Nia tak menggubris bisikan tomi dan terus asyik merangsang dirinya sendiri. Nafsunya kini sudah bangkit, celana dalamnya terasa begitu hangat oleh hawa nafsunya sendiri.
“Kak Nia, Toni pegel nih kak tangannya..” ujar Toni lirih. “Bantuin dong kak Nia, pleasee…” ujar Toni mencoba peruntungannya.
Nia melirik Toni tajam. Sial sekali Toni seakan tahu pikiran dalam kepalanya. Diantara gelombang nafsu seperti ini, ia jadi galau terombang-ambing.
“Hm! Sial lu tom. Sini cepet!” jawab Nia singkat sembari berusaha tetap cool.

Toni berbunga-bunga seakan bermimpi di siang bolong. Dengan gugup ia melangkah mendekat, mencodongkan pinggulnya kedepan. Nia pun tak kalah gugup menjelang tangannya menyentuh kontol Toni. Dengan pelan Nia mulai mengocok kontol Toni naik dan turun. Toni menggigit bibirnya sendiri tak kuasa menahan kenikmatan. Nia menjadi makin bersemangat oleh desahan tertahan Toni. Ingin rasanya ia cepat-cepat melihat ejakulasi Toni.
“Awghh… k-kak.. Enak bangettt… suerr…” ceracau Toni.
“Kak Nia, j-jilat dikit dong kak.. Aku dah mau keluar nihh.. Sshmmmm” rayu Toni lagi.
Shit, pikir Nia dalam hati. Sebenarnya memang Nia sedari tadi sudah terpancing untuk melakukan hal tersebut, namun tentu Nia tidak mungkin merendahkan harga dirinya dan meminta duluan.
“Hmmhh.. sialan lu Ton! errrghh.. Slurp… mhhhhmmm… chuppp..”
Nia dengan sekejap langsung mengemut kepala kontol Toni dan mengisapnya seperti permen lolipop. Toni mengejang-ngejang keenakan. Baru kali itu ia merasakan nikmat seperti itu. Digenggamnya kontol Toni dan dijilatnya mulai dari pangkal, hingga ke pucuk kontolnya, diakhiri dengan kuluman dalam mulutnya, membuat Toni kocar kacir. Nina mengeluarkan pengalamannya demi membuat Toni bertekuk lutut, sialnya Toni bisa begitu kuat menahan orgasmenya hingga nina harus berupaya ekstra.
Akhirnya Toni tak bisa lagi menahan orgasmenya. Diujung sisa perlawanannya, Toni tiba-tiba menjambak rambut panjang Nia dengan kencang, dan menghentakkan pinggulnya dalam-dalam. Nia yang sama sekali tidak siap hanya bisa mencengkram pinggul Toni ketika kontol gagah Toni terdorong melesak jauh kedalam tenggorokannya. Toni dengan gilanya menggagahi tenggorokan Nia tanpa ampun, membuat Nia tersedak dan terbatuk-batuk hebat. Nia hanya bisa pasrah tenggorokannya diperkosa Toni. Diantara keberingasan itu Nia anehnya malah makin terangsang, diam-diam ia menyukai perilaku beringas Toni ini nikmat rasanya hingga basah sendiri celana dalam Nia.
“Hmmmmmhhh! Makan nih peju gue… ssshhghghggg….gggghhhhh…….”
Cairan sperma Toni yang berlimpah membanjiri rongga mulut dan tenggorokan Nia. 1,2,3,4, kali kontol Toni berkedut-kedut menyemburkan spermanya seakan mulut Nia adalah rahim yang hendak dibuahinya. Dan ketika Toni usai menuntaskan orgasmenya, ia mencabut kontolnya serta merta dan terhuyung kebelakang terduduk di kursi komputernya lagi.
“Ohok! Ohokk!!! Hoekk!!! aahgghhhh”
Nia terbatuk-batuk hebat ketika paru-parunya yang nyaris meledak diisi kembali oleh oksigen. Ludah, dahak, serta sprerma kental dimuntahkan olehnya ke lantai. Nia mengelap bibirnya yang belepotan campuran berbagai cairan, dan juga mengelap butiran airmatanya yang menetes ke pipi. Toni tak lagi sanggup berdiri dan hanya bisa terduduk sembari mengelap kontolnya menggunakan tissue.

“Cuhhh… hhhh…hh… brengsek lu Ton.. Hhh.hhh..” umpat nina disela-sela napasnya masih dengan suara serak.
Toni buru-buru bangkit dan mengambil tissue bersih demi membantu mengelap bibir Nia yang masih tidak karu-karuan. Toni dengan penuh perhatian membantu mengelap sisa-sisa kebrutalannya tadi.
“Maap kak… Toni kebawa suasana.. Maap yaah .Abis kak Nia hebat banget sih nyepongnya. Toni jadi ga kuat..” Ujar Toni sambil malu-malu
“Ga kuat sih ga kuat, tapi ga langsung beringas juga kali gue kan kaget. Untung aja ga keluar semua makan siang gue tadi.” dengus Nia kesal.
“Iya deh maap ya kak nin, nanti besok-besok ga gitu lagi deh.. Janji. Hehe” rayu Toni.
“Ihh, enak aja besok-besok lagi. Sorry ya.. Cukup sekali ini. Huuu..” cibir Nia sembari masih tersengal-sengal.
“Jangan gitu dong kak nih, haha. Enak kan kontol Toni? Buktinya kak Nia ngisepnya menghayati banget tadi..” ujar Toni sambil tersenyum-senyum.
“Halah, kepedean lu Ton. Namanya orang sange ya pasti menghayati lah…” cerocos Nina setengah keceplosan.
“Hoo, jadi tadi sange juga toh? Kesian dong kak Nia belom keluar.. Karena Toni baik, sini gantian Toni bantuin Kakak.” goda Tomi sambil tersenyum-senyum girang.
“Eh eh mo ngapain lu Ton? Ihh lepass!”

Toni segera merengkuh tubuh Nia dan merebahkannya ke kasur. Terasa kini oleh Nia betapa badan Toni yang jauh lebih besar ketimbang tubuhnya dan dapat dengan mudah menahannya di kasur. Toni dengan agak memaksa menciumi telinga dan leher Nia. Bahkan tangannya Toni juga kini ikut menggerayangi payudara Nia.
“Ton.. Ton udah , Ton udah, iya iya ampun ampun. Oke oke damai pliss..” mohon Nia berusaha menghentikan serangan Toni.
“Kenapa kak Nia? Hmmmm…mmmuach… kan Toni cuman pengen bantuin kak Nia aja, ga enak dong Toni tadi udah keluar duluan kak Nia belom.. Mmmmwach..” ujar Toni terus menyerang tengkuk Nia. Nia merasakan kontol Toni sudah agak mengeras lagi menyenggol pahanya.
“Oke, oke deh, lo boleh bantuin dengan satu syarat.. Tapi lo jangan masukin ya Ton. Lo jilatin aja ya… okeee? Hmmm..” kilah Nia berusaha menghindar.
“Hmmmm.. Muach.. Okedeh… hehe. Sini kak Toni jilatin kak.” ujar Toni bersemangat beranjak melepaskan cengkramannya.
Nia menghela napas mengatur napasnya lagi. Nyaris saja Nia pasrah oleh serangan Toni. Nia dengan agak ogah ogahan menanggalkan roknya hingga jatuh ke lantai. Ia rapatkan pahanya dalam-dalam agar Toni tidak bisa melihat bercak basah dicelana dalam pink nya.
“Eh, eh, kak kok langsung sih? Nanti dong santai.. Hehe. Toni pengen jilat yang ini dulu..” Ujar Toni seraya meraba payudara Nia. Sialan pikir Nia, kali ini malah keadaan berbalik dirinya yang dimanfaatkan Toni.
Dengan masih tersenyum-senyum cabul, Toni merabai payudara Nia. Toni dengan lembut menjahilin puting susu Nia dari balik bh.
“Eghmmm..”
Nia menahan bibirnya rapat-rapat agar tidak kelepasan mendesah. Kini dua telunjuk Toni bermain di kedua puting susu Nia yang kenyal dan mulai mencubit pelan dan memuntir-muntir puting Nia lembut. Toni beralih kebelakang Nia , Toni terus memancing desahan Nia untuk keluar. Dari posisi belakang, Toni dengan diam-diam kembali menciumi leher Nia penuh nafsu. Nia tak kuasa menggelinjang merinding tatkala Toni mempermainkan tubuhnya seperti itu. Secara naluriah Nia melingkarkan lengannya kebelakang merangkul leher Toni. Toni dengan giatnya terus mencubit, menjawil, mengusap, dan menarik puting Nia yang makin kenyal. Lidahnya menari-nari dileher dan kuping Nia membuatnya bergetar keasyikan. Nia tak habis pikir bagaimana anak SMP ini bisa mencumbuinya sebegitu hebat seperti kekasihnya sendiri.

Kemudian secara perlahan sebelah tangan Toni merayap kebawah dan membelai paha Nia. Nia yang sudah tipis kesadarannya hanya mengikuti bimbingan tangan Toni untuk membuka kedua pahanya. Nia menoleh kearah Toni dan segera memagut bibir Toni penuh nafsu ketika jemari Toni merabai kemaluannya lembut.
“Ahh.. anget banget kak. Enak ya dimainin Toni?” tanya Toni mesra.
Toni yang juga sudah gemas menelusupkan tangannya masuk kedalam celana dalam Nia. Nia yang kalap menjambak rambut Toni dan menciumnya makin dalam ketika jemari Toni mengusap bibir memek Nia yang berlendir.
“Ssshh.. Itilnya tom, itilnya mainin plis..” Mohon Nia.
“Ini yah? Ini kak? Hmmm?”
“Aggghhh tommm….”
Nia meringis penuh kenikmatan sewaktu ujung jari tengah Toni menelusup diantara celah memeknya dan mencolek tonjolan berkerudung di sudut atas kemaluannya. Badan Nia bergetar seakan dialiri listrik dari ujung kepala hingga ujung kaki manakala Toni menjahili mesra klitoris Nia. Kini bahkan kedua kaki Nia berjinjit mengangkang di pinggir kasur membuat Toni makin leluasa mengerjainya.
“Ahmmm… gila Ton enak bangettt.. Terusin Tonn… kocokin memek gue Tonn…”
Toni segera memasukkan jari tengahnya kedalam lubang memek Nia. Sangking basahnya dengan mudah jari Toni menelusup masuk. Kini posisi mereka berdua kembali berpindah, Nia merebahkan diri diatas kasur mengangkang sementara Toni berlutut diantara kedua kakinya terus mengorek-ngorek memek Nia.
“Tooon.. Gilaa…Tonnn…auhh terus Tonnn…. Mhmhh..”
Nia merengek-rengek liar ketika Toni memasukkan jari kedua kedalam memek Nia dan kemudian menyeruput klitoris Nia dengan sedapnya.
“Shrrrrppppppptttt…..”
Nia menggelinjang binal dibuatnya. Disodok-sodokannya jari Toni kedalam memek Nia dengan beringas.
“Yess!! Ughh fuck.. Kasarin gue Tonn, kasarin Tonn.. Ouggghhh fuck me!”
Tak lama Toni merasa kedua jarinya diremas-remas kencang oleh dinding memek Nia. Nia mengerang seperti anjing sekarat ketika tanpa diduga-duga Nia menyemburkan cairan encer dari dalam kemaluannya. Toni terbelalak kaget ketika Nia terus menerus mengencingi tangan dan kasurnya habis-habisan hingga kasurnya basah menggenang.
Dan akhirnya Nia melepaskan jepitan pahanya dan melepaskan tangan Toni yang basah kuyup hingga ke lengannya. Baru kali itu Toni merasakan sendiri sensasi yang selama ini hanya bisa ia tonton di film bokep. Nia megap-megap mencari napas sehabis mengeluarkan orgamse yang begitu dahsyat. Toni membiarkan Nia beristirahat sejenak mencari udara dan menikmati sisa sisa klimaksnya. Hingga akhirnya Nia kembali sadar dan melirik lembut kearah Toni.
“Sini Ton..” Panggil Nia lembut.
Toni mendekat diatas tubuh Nia dan kemudian secara naluriah Nia melingkarkan kedua kakinya di pinggang Toni, dan mencumbui bibir Toni mesra.
“Huu.. hoki lu bisa bikin gue begini.. Cowo gue aja gabisa. Mmwachh..” Ujar Nia lagi sembari kembali mencumbu Toni manja.
“Haha.. berarti lebih jago Toni dong dari pacarnya kak Nia? Kalo gitu pacaran sama Toni aja kak.. Toni entot tiap hari deh janji..” rayu Toni nakal.
“Haha geer lu Ton, emang siapa yang mau dientot sama lo?”
“Yakin gamau dientot kak? Udah keras lagi nih kak… tinggal bless aja..”
Toni terus merayu Nia sembari menggesek-gesekkan kontolnya ke memek Nia. Sesekali kepala kontolnya menggesek klitoris Nia membuat nina kembali menggelinjang geli.
“Emang lu bisa masukin tom? Yakin ga salah lobang?” goda Nia sambil tersenyum genit.
“Wah meragukan nih. Bener ya? Toni masukin nih… hmmmmm..”
“Coba aj–eggngnggghhhh….”
Nia seketika meringis ketika kepala kontol Toni masuk tepat sasaran kedalam memek Nia dan masih dalam posisi mereka tetap berpelukan seperti tadi. Toni tersenyum penuh kemenangan melihat Nia meringis keenakan. Toni dengan perlahan menggerakan pinggulnya maju menekan kontolnya masuk lebih dalam ke memek Nia. Nia merengkuh leher Toni kencang merasakan batang kokoh itu masuk semili demi semili kedalam lubang memeknya. Terasa begitu nikmat selisih diameter antara kontol Toni dibanding milik kekasihnya, dimana memek Nia belum pernah merenggang selebar itu sebelumnya.
“Gede banget Ton…” bisik Nia tanpa sadar oleh rasa takjub. Toni jadi besar kepala mendengar pujian seperti itu, apalagi ini adalah pengalaman seks dia yang pertama.
Dengan percaya diri Toni mulai menggenjot Nia dibawahnya. Toni dengan cepat mampu beradaptasi dan menggerakkan pinggulnya maju mundur berirama.

Toni dengan fokus menghantamkan pinggulnya maju mundur, membuat Nia dibawahnya makin kalang kabut. Keringat menetes deras di tubuh mereka, begitu juga cairan pelumas yang merembes makin banyak keluar dari sela-sela bibir memek Nia.
“Sshh.. sini kak Nia gantian kak, entotin Toni yah.. hehe..” Ujar Toni sembari menangkat badan Nia.
Kini posisinya Nia duduk dipangku diatas Toni berhadap-hadapan dengan Toni berada dibawah. Nia dengan cepat beradaptasi dan mulai menggerakkan bagian bawahnya yang masih tertancap kontol Toni.
“Ughhh.. dalemm..” bisik Nia manja.
Dalam posisi berpangkuan seperti itu terasa kontol vertikal Toni menancap dalam. Nia mulai menggerakkan pinggangnya naik turun sekenanya karena masih lemas terasa pahanya. Toni dengan sabar memegangi kedua bongkah pantat Nia dan membimbingnya bergerak naik turun. Dengan giat Nia menunggangi Toni sambil terus meracau dan mendesah. Toni yang masih belum puas bermain dengan Nia, menggiring Nia ke pinggir kasur dan mengaitkan kedua tangannya dibawah kaki Nia. Nia yang lemas hanya bisa pasrah kebingungan ketika Toni serta merta dengan gagahnya menggendong Nia didalam dekapannya.
“Ahhg Tonn, mo ngapain..?”
Toni tak menjawab dan hanya langsung memasukan kontolnya lagi di memek Nia dalam posisi berdiri menggendong Nia seperti itu.
“Aughh!!”
Badan Nia terombang-ambing terus menerus dihantam oleh Toni yang beringas seperti kuda liar. Baru terasa oleh Nia betapa Toni sudah jauh berbeda dari yang dulu. Bocah kecil ingusan itu kini telah berubah menjadi pria dewasa yang mampu mempermainkan dirinya seperti boneka seks dengan mudahnya. Nia bergetar kejang-kejang manakala memeknya kembali mulai berkedut kencang, menandakan dirinya nyaris mencapai orgasme lagi.
“Tonn.. Tonii… Tonii!!”
Nia memekik kencang memanggil nama Toni manakala akhirnya banjir deras dari dalam rahim Nia kembali tercurah kencang. Pinggul dan pantat Nia mengejan-ngejan dan meliuk-liuk karena curahan air kembali menyembur dari sisa-sisa sela pinggir memeknya yang tertancap keras kontol Toni. Toni dengan santai menikmati tumpahan air yang mengalir membasahi paha hingga kakinya. Toni tersenyum melirik ekspresi Nia yang begitu keenakan diterjang orgasme, matanya terpejam-pejam dan bibirnya setengah menganga dengan rambut terurai basah oleh keringat.

Toni dengan perlahan kembali menelentangkan Nia di kasur yang nyaris melorot karena tak sanggup lagi menyangga dirinya di pelukan Toni. Nia yang masih mengambang diantara kesadaranya hanya bisa terkangkang pasrah lemas diatas kasur.
“Kok udah lemes? Masih belom selesai loh. Toni masi belum keluar lagi nih..” Ujar Toni seraya membaringkan badan disebelah nina dan mengelus rambutnya yang berantakan. Nia mendengking pelan menghindari usapan tangan Toni di kepalanya seolah berusaha menampik rayuan Toni, badannya terasa sangat lelah, dan selangkangannya terasa amat pegal. Rasanya Nia enggan untuk meladeni nafsu bejat Toni yang ternyata diluar dugaan Nia itu. Dengan gemas Toni menjambak rambut Nia dan berbisik kasar.
“Ayo. Gue masih pengen ngentotin memek lo nih. Mmmmuach..” Ujar Toni dengan nada mengancam seraya mencium paksa bibir Nia. Nia seketika ciut mendengar perkataan Toni barusan. Ia tak menyangka Toni bisa membuatnya ketakutan seperti itu.
“Mmmggghh..! Udah Tonn.. Please..” Mohon Nia sepenuh hati. Didorongnya Toni menjauh melepaskan ciuman mereka. Namun Toni yang kini sudah berubah menjadi hewan buas, tak mengindahkan permohonan Nia. Toni pun mengangkat badan Nia hingga berlutut didepannya. “Plakkk!!” tamparan keras mendarat di bongkahan pantat Nia. “Anngggghh!” Nia meringis merasakan rasa panas di bokongnya.
Lagi-lagi dengan gagahnya Toni meraih pinggul Nia, dan dengan tanpa ampun Toni menelusupkan kontolnya kembali kedalam memek Nia dengan kasar.
“Annnnghhhhhh ammmpuunn Tonnnn.. !”
Nia terjungkal-jungkal kedepan seperti boneka tak bernyawa dipacu liar oleh Toni. Toni dengan buasnya menghantam Nia tanpa ampun. Dalam keadaan seperti itu Nia malah kembali merasakan birahinya kembali naik. Diam-diam nina juga ikut menikmati sensasi kasar ala Toni terhadap dirinya yang baru pertama kali ini ia rasakan seumur hidupnya. Toni meraih rambut Nia lagi dan menjambaknya kebelakang seperti tengah menunggangi seekor kuda. “Ahhhhhgg!” Nia meringis dan mendongak mengikuti tarikan rambutnya. Toni berdesis-desis menikmati tunggangan liarnya itu, sang kuda binal yang selama ini hanya jadi objek masturbasinya belaka.
“Shhhh..aahhh…ssshhhh……sshhhhhhh…..uuuhhhh….yeaaahhh…”

Kini Toni bahkan meraih leher Nia dan mencekiknya hingga badan Nia ikut tertarik kebelakang posisi badan mereka kini sama-sama berlutut dengan Toni masih terus menghajar Nia dari belakang tanpa ampun. Toni mencekik leher Nia kuat sembari lidahnya menyapu dan menghisap telinga Nia dari belakang.
“Hmmmghh.. Sshh.. enak kan kak Nia? Hmm? Enak ga Toni entotin gini?!” Bisik Toni seraya masih tetap tangannya melingkar di leher Nia. Nia yang kembali melayang-layang diterpa kenikmatan hanya bisa mengangguk lemah dengan mata setengah tertutup. Sebelah tangan Nia bahkan melingkar kebelakang seolah berusaha memegangi pantat Toni, tak rela apabila Toni mengendurkan genjotannya. Nia begitu larut dalam kenikmatan hingga tak lagi mampu berkata-kata.
“Mau ngga Toni entotin tiap hari gini? Hah? Mau ngga? Jawab kak!” Bisik Toni kasar. Panggilan kasar itu seakan melecut Nia semakin keenakan. Semakin kasar Toni, semakin birahi Nia berkobar.
“Agh-agh-agh-m-mau-Ton-Ton-agh-agh-agh” Jawab Nia terbata-bata akibat guncangan kasar Toni menyetubuhi dirinya.
“Shh–aah… kalo gitu-shh–terima nih.. P-peju gue.. Urghhh!!”
Toni dengan serta merta tak lagi berusaha menahan laju orgasmenya. Bendungan sperma yang sedari tadi ia tahan, ia curahkan semua kedalam rahim Nia. Nia dengan nikmat menerima semburan demi semburan cairan panas didalam lubang memeknya, hingga titik terakhir. Dan akhirnya mereka berdua pun ambruk saling bertindihan. Dan tak lama keduanya sama-sama memejamkan mata dan terlelap. AGEN JUDI POKER ONLINE

Comments

Popular posts from this blog

Ditilang Polisi Ganteng Yang Akhirnya Minta Ngentot

Tergoda Istri Tetangga Dari Mengintip Dan Akhirnya Bisa Kunikmati

Menjadi Supir Sekaligus Gigolo Majikanku Yang Bernafsu Besar